IDENTIFIKASI I
I. Tujuan
Diharapkan kita dapat mengidentifikasi berbagai jenis simplisia dalam suatu puyer atau serbuk campuran dengan melihat fragmen-fragmen pengenal yang ditemukan dan ciri-ciri organoleptisnya.
II. Hasil Pengamatan
a. Amylum Manihot
Ket :
Reagen I2KI
Perbesaran 10 x 40
Butir pati berbentuk seperti topi baja, butir tunggal dan jarang berkelompok, hilus terletak ditengah dan berbentuk garis cabang tiga, lamela tidak jelas dan berwarna ungu kehitaman.
b. Piperis Nigri Frucrus
1 2
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 10
1. Fragmen mesokarp dengan penebalan dinding sel
2. Fragmen perisperm
c. Languatis Rhizoma
1 2
3
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
1. Jaringan berkas pembuluh dengan penebalan tangga
2. Butir pati dengan bentuk lonjong dan tunggal
3. Epidermis dan jaringan korteks bagian luar
III. Pembahasan
Setelah dilakukan identifikasi secara organoleptis, hasil yang didapat berupa bau serbuk yang lemah dan khas aromatik, rasa yang hambar dan sedikit pedas, serta warna serbuk kuning kecoklatan dan bercampur putih. Sedangkan secara mikroskopik, fragmen yang ditemukan berupa fragmen pengenal dari simplisia jenis dari Amylum Manihot, mesokarp dan perisperm Piperis Nigri Fructus, jaringan berkas pembuluh, butir pati, serta epidermis dan jaringan korteks bagian luar dari Languatis Rhizoma.
a. Amylum Manihot
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Bangsa : Manihoteae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima
Amylum manihot atau pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilissima. Dengan menggunakan reagen I2KI dan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 40, Amilum yang ditemukan memiliki bentuk mikroskopik seperti topi baja, tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat dengan hilus terletak di tengah dengan bentuk garis dan bercabang tiga, dan lamela tidak jelas, serta amilum berwarna ungu.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid III). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri amilum pada Manihot utilissima secara makroskopik berupa serbuk berwarna putih dan sangat halus. Sedangkan secara mikroskopik amylum manihot berupa butir tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat atau persegi banyak, berbentuk topi baja, butir kecil berdiameter 5 sampai 10 µm, butir besar berdiameter 20-35 µm. Hilus ditengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamela tidak jelas, konstentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya.
Kegunaan dari amylum Manihot utilissima ini antara lain adalah untuk obat rematik, sakit kepala, demam, luka, diare, cacingan, disentri dan beri-beri.
b. Piperis Nigri Fructus
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum L.
Buah lada hitam adalah buah dari tanaman yang memiliki nama latin Piper nigrum L. yang belum masak dan memiliki kandungan minyak atsiri tidak kurang dari 1% b/v. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat dan di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 berupa fragmen mesokarp dengan penebalan dinding sel dan fragmen perisperm yang merupakan fragmen pengenal dari simplisia Piperis Nigri Fructus.
Ciri-ciri fragmen yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (materia medika indonesia jilid IV. Hal. 105-107). Dalam litelatur disebutkan bahwa ciri fragmen pada Piperis Nigri Fructus secara organoleptis berupa serbuk berwarna coklat muda, bau aromatik, rasa pedas. Secara mikroskopik fragmen pengenalnya adalah epikarp tersusun dari satu lapis sel apidermis yang sel-selnya berbentuk persegi empat membulat, berisi hablur kecil berbentuk prisma dan zat berwarna coklat tua sampai kehitam-hitaman; pada pandangan tangensial epikarp tampak berbentukpoliginal dengan dinding samping lurus. Hipodermis terdiri dari jaringan parenkim berdinding tipis dan kelompok-kelompok sel batu; sel batu berbentuk isodiametrik sampai persegi panjang, dinding tebal berlapis-lapis, berlignin, warna kuning kecoklatan, lumen cukup lebar dan berisi zat berwarna coklat tua, saluran noktah jelas. Mesokarp merupakan bagian yang terlebar; bagian luar terdiri dari beberapa lapis selparenkim besar berbentuk poliginal berisi butir pati dan butir hijau daun, diantara sel parenkim terdapat tersebar sel sekresi berisi minyak berwarna kekuningan atau berisi damar; lapisan selanjutnya terdiri dari beberapa lapis sel parenkim berdinding tipis yang termampat, diantara sel parenkim terdapat berkas pembuluh fibrofaskuler; di mesokarp bagian dalam terdapat lapisan sel minyak, sel terbentuk poliginal, besar, berisi minyak tidak berwarna. Endokarp terdiri dari satu lapis sel piala dengan dinding radial dan dinding tangensial dalam tebal, berlignin, dinding dalam lebih berlignin dari pada dinding luar.
Kegunanan dari daun saga ini adalah untuk karminatif, iritasi lokal, disentri, kolera, kaki bengkak, nyeri haid, rematik (nyeri otot), selesma, sakit kepala (obat luar).
c. Languatis Rhizoma
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Langauas
Spesies : Languas galanga (L.). Stuntz.
Rimpang lengkuas adalah rimpang Languas galanga (L.). Stuntz. Yang memiliki kadar minyak atsiri tidak kurang dari 0,5% v/b. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat dan di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 40 berupa jaringan berkas pembuluh dengan penebalan tangga, butir pati dengan berbentuk lonjong, serta epidermis dan jaringan korteks bagian luar yang merupakan fragmen pengenal dari Languatis Rhizoma.
Ciri-ciri fragmen yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (materia medika indonesia jilid II. Hal. 51-54). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragmen pada Languatis Rhizoma secara organoleptis berupa bau aromatik dan rasa pedas. Sedangkan secara mikroskopik fragmen pengenalnya berupa jaringan gabus, butir pati, idioblas berisi minyak dan zat samak, fragmen parenkim, serabut sklerenkim, pembuluh kayu dan tidak terdapat sel hablur. Epidermis terdiri dari satu lapis sel kecil agak pipih, dinding berwarna kuning kecoklatan, kutikula jelas. Korteks parenkimatik, jaringan korteks bagian luar terdiri dari beberapa lapis sel dengan dinding tipis berwarna kuning kecoklatan; jaringan korteks bagian dalam terdiri dari sel parenkim besar, dinding sel tipis, tidak berwarna, kadang-kadang bernoktah halus, berisi butir pati.
Kegunaan dari rimpang lengkuas adalah karminatif, antifungi, kudis, koreng, borok, pelancar kemih, obat penguat empedu.
IV. Kesimpulan
Pada sampel yang diberikan, telah ditemukan tiga (3) jenis simplisia yang terkandung yaitu : Amylum Manihot, Piperis Nigri Fructus, dan Languatis Rhizoma. Amylum Manihot dengan fragmen pengenal berupa amylum berbentuk topi baja dan tunggal dan jarang berkelompok. Piperis Nigri Fructus dengan fragmen pengenal berupa mesokarp dengan penebalan dinding sel dan fragmen perisperm. Sedangkan Languatis Rhizoma fragmen pengenalnya berupa jaringan berkas pembuluh dengan penebalan tangga, butir pati berbentuk lonjong dan hilus dan lamela tidak jelas, serta epidermis dan jaringan korteks bagian luar.
Penamatan dilakukan dibawah mikroskop dengan menggunakan reagen I2KI dan klorak hidrat. I2KI memiliki fungsi untuk memberikan warna ungu pada amilum, sedang kan klorak hidrat untuk menyamarkan amilum sehingga fragmen atau organ lain dapat terlihat dengan jelas.
V. Daftar Pustaka
Anonim, 1978. Materia Medika Indonesia Jilid II. DepKes RI, Jakarta.
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. DepKes RI, Jakarta.
Anonim, 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV. DepKes RI, Jakarta.
http://www.klipingku.com/2009/09/manfaat-rimpang-lengkuas-untuk-pengobatan-dan-kesehatan/
Jumat, 29 April 2011
farmakognosi identifikasi 1
IDENTIFIKASI I
I. Tujuan
Diharapkan kita dapat mengidentifikasi berbagai simplisia dalam suatu puyer atau serbuk campuran dengan melihat fragmen-fragmen yang ditemukan dan ciri-ciri organoleptis.
II. Hasil Pengamatan
a. Amylum Manihot
Ket :
Reagen I2KI
Perbesaran 10 x 40
Butir pati berbentuk seperti topi baja, butir tunggal dan jarang berkelompok, hilus terletak ditengah dan berbentuk garis cabang tiga, lamela tidak jelas dan berwarna ungu kehitaman.
b. Abri Folium
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
Hablur kristal oksalat pada tulang daun dan tulang daun berbentuk huruf Y
c. Retrofracti Fructus
1 2
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
1. Sel batu ada yang berkelelompok dan terpisah
2. Perisperm dengan butir pati
d. Rhei Radix
1 2
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
1. Kristal kalsium oksalat dengan bentuk roset
2. Butir pati berkelompok berbentuk agak bulat dan topi baja, hilus berupa titik pada tengah fragmen amylum.
III. Pembahasan
Setelah dilakukan identifikasi secara organoleptis, hasil yang didapat berupa bau serbuk yang khas aromatik, rasa yang hambar dan sedikit pedas, serta warna serbuk abu kecoklatan. Sedangkan secara mikroskopik, fragmen yang ditemukan berupa amylum manihot, rambut penutup dan hablur kristal oksalat pada tulang daun pada Abri Folium, sel batu dan perisperm dengan butir pati pada Retrufacti fructus, dan kristal kalsium oklasat dengan bentuk roset pada Rhei radix.
a. Amylum Manihot
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Bangsa : Manihoteae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima
Amylum manihot atau pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilissima. Amilum yang ditemukan memiliki bentuk mikroskopik seperti topi baja, tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat dengan hilus terletak di tengah dengan bentuk bercabang tiga, dan lamela tidak jelas. Warna amilum dibawah mikroskop dengan menggunakan reagen I2KI, berupa butiran-butiran berwarna ungu kehitaman.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid III). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri amilum pada Manihot utilissima secara makroskopik berupa serbuk berwarna putih dan sangat halus. Sedangkan secara mikroskopik amylum manihot berupa butir tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat atau persegi banyak, berbentuk topi baja, butir kecil berdiameter 5 sampai 10 µm, butir besar berdiameter 20-35 µm. Hilus ditengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamela tidak jelas, konstentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya.
Kegunaan dari amylum Manihot utilissima ini antara lain adalah untuk obat rematik, sakit kepala, demam, luka, diare, cacingan, disentri dan beri-beri.
b. Abri Folium
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Abrus
Spesies : Abrus precatorius
Daun saga adalah anak daun Abrus precatorius dengan kadar glisirisin tidak kurang dari 15 %. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa hablur oksalat pada tulang daun dan tulang daun yang menyerupai huruf Y dibawah mikroskop yang merupakan ciri khas fragmen dari Abri folium.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Heyne, K. 1987). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragmen pada Abri folium secara organoleptis berupa serbuk berwarna hijau, bau lemah, rasa agak manis. Secara mikroskopik fragmen pengenalnya adalah rambut penutup, epidermis atas, epidermis bawah, mesofil fragmen berkas pengangkut yang didampingi deretan sel hablur, stomata, kalsium oksalat pada urat daun.
Kegunanan dari daun saga ini antara lain adalah untuk sariawan, anti radang, diuretik, antitusif, dan parasitisida .
c. Retrofracti Fructus
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper rectrofractum
Buah cabe jawa adalah buah majemuk yang sudah tua tetapi belum masak dari tumbuhan Piper rectrofractum. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa sel batu yang berkelempok, satu kelompok terdiri dari dua sel batu, dan sel perisperm yang penuh berisi butir pati.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Heyne, K. 1987). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragen pada Retrofracti Fructus secara organoleptis berupa serbuk berwarna kelabu kecoklatan. Sedangkan secara mikroskopik fragmen pengenalnya berupa sel perisperm penuh berisi pati, fragmen endokarp terpotong tangensial dengan sel endokarp berbentuk poligonal, dinding samping berpori lebar, fragmen epidermis dari kulit biji terpotong tangensial, berbentuk persegi panjang berwarna kuning, fragmen parenkim dengan kelompok sel batu dari hipodermis, fragmen kulit biji berwarna coklat atau kuning kecoklatan dan masih berlekatan dengan endokarp,terakheida serabut, dinding agak tebal, noktah berupa celah, berasal dari poros atau dari gagang buah, sel batu berukuran lebih besar dari sel batu hipodermis, berasal dari poros dan gagang, saluran getah pada parenkim.
Kegunaan dari buah cabe jawa ini antara lain adalah kejang perut, disentri, stroke, rematik, sakit gigi, susah buang air besar, batuk, demam, sakit kepala, muntah-muntah, hidung berlendir dan tekanan darah rendah.
d. Rhei Radix
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poligonales
Famili : Poligonaceae
Genus : Rheum
Spesies : Rheum officinale
Akar kelembak adalah akar dari tumbuhan Rheum officinale. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa kristal kalsium oklasat berbentuk roset yang terlihat banyak dan terpisah-pisah dibawah mikroskop, selain itu terlihat juga butiran pati yang terlihat berbentuk agak bulat dan berbentuk topi baja dengan hilus berupa titik ditengah dan terlihat berkelompok.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama persis dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid VI, hal. 231-235). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri amilum pada Rheum officinale secara organoleptis warna kuning kecoklatan; bau khas aromatik; rasa agak pahit dan agak kelat. Sedangkan secara mikroskopik pada penampang melintang akar tampak jaringan gabus, berdinding tipis, bentuk segi empat memanjang letaknya teratur. Sel parenkrim korteks berdinding tipis, berisi butir pati, bentuk bundar atau setengah bundar mempunyai hilus, tunggal atau berkelompok, juga terdapat kristal kalsium oksalat bentuk roset besar dan tersebar. Floem terdiri dari sel parenkim floem dan lebih kecil dari sel parenkim korteks, jari-jari empulur terdiri dari 1 sampai 2 lapis sel. Endodermis terdiri dari satu sampai beberapa lapis sel berdinding tipis, pada parenkim floem juga terdapat butir pati dan kristal kalsium oksalat bentuk roset besar.
Kegunaaan dari akar kelembak ini antara lain adalah sebagai purgatif, antipiretik, antispasmodik, stomakik, obat pencahar, nyeri lambung, skrofura, melancarkan haid, membantu mengatasi sakit kuning, dan membantu menghentikan pendarahan.
IV. Kesimpulan
Pada sampel yang diberikan, telah ditemukan empat (4) jenis simplisia yang terkandung yaitu : Amylum Manihot, Abri Folium, Retrofracti Fructus, dan Rhei Radix. Amylum Manihot dengan fragmen pengenal berupa amylum berbentuk topi baja dan tunggal dan jarang berkelompok. Abri Folium dengan fragmen pengenal hablur oksalat pada tulang daun dan tulang daun yang menyerupai huruf Y. Retrofracti Fructus dengan fragmen pengenal berupa sel batu yang berkelempok dan sel perisperm yang penuh berisi butir pati. Sedangkan Rhei Radix dengan fragmen pengenal berupa kristal kalsium oklasat berbentuk roset dan butiran pati yang terlihat berbentuk agak bulat dan berbentuk topi baja dengan hilus berupa titik ditengah dan terlihat berkelompok.
V. Daftar Pustaka
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. DepKes RI, Jakarta.
Anonim, 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. DepKes RI, Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.
Tim Dosen Biologi. 2009. Panduan Praktikum Biologi Umum. Inderalaya : FKIP UNSRI
I. Tujuan
Diharapkan kita dapat mengidentifikasi berbagai simplisia dalam suatu puyer atau serbuk campuran dengan melihat fragmen-fragmen yang ditemukan dan ciri-ciri organoleptis.
II. Hasil Pengamatan
a. Amylum Manihot
Ket :
Reagen I2KI
Perbesaran 10 x 40
Butir pati berbentuk seperti topi baja, butir tunggal dan jarang berkelompok, hilus terletak ditengah dan berbentuk garis cabang tiga, lamela tidak jelas dan berwarna ungu kehitaman.
b. Abri Folium
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
Hablur kristal oksalat pada tulang daun dan tulang daun berbentuk huruf Y
c. Retrofracti Fructus
1 2
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
1. Sel batu ada yang berkelelompok dan terpisah
2. Perisperm dengan butir pati
d. Rhei Radix
1 2
Ket :
Reagen kloral hidrat
Perbesaran 10 x 40
1. Kristal kalsium oksalat dengan bentuk roset
2. Butir pati berkelompok berbentuk agak bulat dan topi baja, hilus berupa titik pada tengah fragmen amylum.
III. Pembahasan
Setelah dilakukan identifikasi secara organoleptis, hasil yang didapat berupa bau serbuk yang khas aromatik, rasa yang hambar dan sedikit pedas, serta warna serbuk abu kecoklatan. Sedangkan secara mikroskopik, fragmen yang ditemukan berupa amylum manihot, rambut penutup dan hablur kristal oksalat pada tulang daun pada Abri Folium, sel batu dan perisperm dengan butir pati pada Retrufacti fructus, dan kristal kalsium oklasat dengan bentuk roset pada Rhei radix.
a. Amylum Manihot
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Bangsa : Manihoteae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima
Amylum manihot atau pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilissima. Amilum yang ditemukan memiliki bentuk mikroskopik seperti topi baja, tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat dengan hilus terletak di tengah dengan bentuk bercabang tiga, dan lamela tidak jelas. Warna amilum dibawah mikroskop dengan menggunakan reagen I2KI, berupa butiran-butiran berwarna ungu kehitaman.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid III). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri amilum pada Manihot utilissima secara makroskopik berupa serbuk berwarna putih dan sangat halus. Sedangkan secara mikroskopik amylum manihot berupa butir tunggal dan jarang berkelompok, agak bulat atau persegi banyak, berbentuk topi baja, butir kecil berdiameter 5 sampai 10 µm, butir besar berdiameter 20-35 µm. Hilus ditengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamela tidak jelas, konstentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya.
Kegunaan dari amylum Manihot utilissima ini antara lain adalah untuk obat rematik, sakit kepala, demam, luka, diare, cacingan, disentri dan beri-beri.
b. Abri Folium
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Abrus
Spesies : Abrus precatorius
Daun saga adalah anak daun Abrus precatorius dengan kadar glisirisin tidak kurang dari 15 %. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa hablur oksalat pada tulang daun dan tulang daun yang menyerupai huruf Y dibawah mikroskop yang merupakan ciri khas fragmen dari Abri folium.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Heyne, K. 1987). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragmen pada Abri folium secara organoleptis berupa serbuk berwarna hijau, bau lemah, rasa agak manis. Secara mikroskopik fragmen pengenalnya adalah rambut penutup, epidermis atas, epidermis bawah, mesofil fragmen berkas pengangkut yang didampingi deretan sel hablur, stomata, kalsium oksalat pada urat daun.
Kegunanan dari daun saga ini antara lain adalah untuk sariawan, anti radang, diuretik, antitusif, dan parasitisida .
c. Retrofracti Fructus
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper rectrofractum
Buah cabe jawa adalah buah majemuk yang sudah tua tetapi belum masak dari tumbuhan Piper rectrofractum. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa sel batu yang berkelempok, satu kelompok terdiri dari dua sel batu, dan sel perisperm yang penuh berisi butir pati.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Heyne, K. 1987). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragen pada Retrofracti Fructus secara organoleptis berupa serbuk berwarna kelabu kecoklatan. Sedangkan secara mikroskopik fragmen pengenalnya berupa sel perisperm penuh berisi pati, fragmen endokarp terpotong tangensial dengan sel endokarp berbentuk poligonal, dinding samping berpori lebar, fragmen epidermis dari kulit biji terpotong tangensial, berbentuk persegi panjang berwarna kuning, fragmen parenkim dengan kelompok sel batu dari hipodermis, fragmen kulit biji berwarna coklat atau kuning kecoklatan dan masih berlekatan dengan endokarp,terakheida serabut, dinding agak tebal, noktah berupa celah, berasal dari poros atau dari gagang buah, sel batu berukuran lebih besar dari sel batu hipodermis, berasal dari poros dan gagang, saluran getah pada parenkim.
Kegunaan dari buah cabe jawa ini antara lain adalah kejang perut, disentri, stroke, rematik, sakit gigi, susah buang air besar, batuk, demam, sakit kepala, muntah-muntah, hidung berlendir dan tekanan darah rendah.
d. Rhei Radix
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poligonales
Famili : Poligonaceae
Genus : Rheum
Spesies : Rheum officinale
Akar kelembak adalah akar dari tumbuhan Rheum officinale. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa kristal kalsium oklasat berbentuk roset yang terlihat banyak dan terpisah-pisah dibawah mikroskop, selain itu terlihat juga butiran pati yang terlihat berbentuk agak bulat dan berbentuk topi baja dengan hilus berupa titik ditengah dan terlihat berkelompok.
Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama persis dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid VI, hal. 231-235). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri amilum pada Rheum officinale secara organoleptis warna kuning kecoklatan; bau khas aromatik; rasa agak pahit dan agak kelat. Sedangkan secara mikroskopik pada penampang melintang akar tampak jaringan gabus, berdinding tipis, bentuk segi empat memanjang letaknya teratur. Sel parenkrim korteks berdinding tipis, berisi butir pati, bentuk bundar atau setengah bundar mempunyai hilus, tunggal atau berkelompok, juga terdapat kristal kalsium oksalat bentuk roset besar dan tersebar. Floem terdiri dari sel parenkim floem dan lebih kecil dari sel parenkim korteks, jari-jari empulur terdiri dari 1 sampai 2 lapis sel. Endodermis terdiri dari satu sampai beberapa lapis sel berdinding tipis, pada parenkim floem juga terdapat butir pati dan kristal kalsium oksalat bentuk roset besar.
Kegunaaan dari akar kelembak ini antara lain adalah sebagai purgatif, antipiretik, antispasmodik, stomakik, obat pencahar, nyeri lambung, skrofura, melancarkan haid, membantu mengatasi sakit kuning, dan membantu menghentikan pendarahan.
IV. Kesimpulan
Pada sampel yang diberikan, telah ditemukan empat (4) jenis simplisia yang terkandung yaitu : Amylum Manihot, Abri Folium, Retrofracti Fructus, dan Rhei Radix. Amylum Manihot dengan fragmen pengenal berupa amylum berbentuk topi baja dan tunggal dan jarang berkelompok. Abri Folium dengan fragmen pengenal hablur oksalat pada tulang daun dan tulang daun yang menyerupai huruf Y. Retrofracti Fructus dengan fragmen pengenal berupa sel batu yang berkelempok dan sel perisperm yang penuh berisi butir pati. Sedangkan Rhei Radix dengan fragmen pengenal berupa kristal kalsium oklasat berbentuk roset dan butiran pati yang terlihat berbentuk agak bulat dan berbentuk topi baja dengan hilus berupa titik ditengah dan terlihat berkelompok.
V. Daftar Pustaka
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. DepKes RI, Jakarta.
Anonim, 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. DepKes RI, Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.
Tim Dosen Biologi. 2009. Panduan Praktikum Biologi Umum. Inderalaya : FKIP UNSRI
tubuh sebagai satu kesatuan ( anfisman )
TUBUH SEBAGAI SATU KESATUAN
I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat menunjukkan letak organ-organ tubuh, serta dapat menjelaskan sistem transpor dalam tubuh.
II. Teori Dasar
Organ merupakan bagian tubuh yang memiliki satu atau lebih fungsi tertentu. Penyusun organ adalah beberapa jenis jaringan yang terorganisir dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Contoh: usus halus, berfungsi mencerna dan menyerap sari-sari makanan. Struktur usus halus terdiri dari jaringan otot, jaringan epitel, jaringan ikat, dan jaringan saraf. Sistem organ merupakan gabungan dari berbagai organ yang melaksanakan satu fungsi dalam koordinasi tertentu.
Macam-Macam Sistem Organ Pada Manusia :
Sistem Ekskresi berfungsi untuk memindahkan hasil metabolisme yang sudah tidak diperlukan ke luar tubuh sehingga sel-sel tubuh dapat menjaga keseimbangannya terhadap lingkungan. Terdiri atas ginjal, paru-paru (karbon dioksida), hati (racun) dan kulit (keringat).
Sistem Pernapasan adalah sistem yang memiliki fungsi untuk mengambil oksigen, menyediakan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke luar tubuh. Terdiri dari hidung, faring, laring, trakea / trakhea, bronki dan paru-paru.
Sistem Pencernaan adalah sistem yang berfungsi untuk melakukan proses makanan sehingga dapat diserap dan digunakan oleh sel-sel tubuh secara fisika maupun secara kimia. Terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, rektum, hati dan pankreas.
Sistem Peredaran / kardiovaskular adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menjaga tubuh dari penyakit, menyebar sari makanan dan oksigen ke seluruh tubuh serta mengangkut zat-zat sisa ke luar tubuh. Terdiri atas jantung, pembuluh arteri, pembuluh vena, pembuluh kapiler, pembulu getah bening (limfatik) dan kelenjar limfe.
Sistem Reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya.
Sistem Otot adalah sistem tubuh yang memiliki fugnsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka.
Sistem Saraf adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menerima dan merespon rangsangan. Terdiri dari otak, saraf tulang belakang, simpul-simpul syaraf dan serabut syaraf.
Sistem Endokrin adalah sistem yang berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur aktivitas tubuh. Terdiri atas kelenjar tiroid, kelenjar hipofisa/putuitari, kelenjar pankreas, kelenjar kelamin, kelenjar suprarenal, kelenjar paratiroid dan kelenjar buntu.
Sistem Rangka adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menyimpan bahan mineral, tempat pembentukan sel darah, tempat melekatnya otot rangka, melindungi tubuh yang lunak dan menunjang tubuh. Terdiri dari tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang, rangka penopang tulang bahu, rangka penopang tulang pinggul, tulang angota badan atas dan bawah.
Sistem peliput adalah sistem yang terletak di permukaan luar tubuh dan melindungi organ dalam tubuh yang terdiri dari kulit, kuku, dan rambut.
Proses transport materi merupakan salah satu aktivitas yang berlangsung yang berlangsung dalam tubuh kita. Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis. Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi sederhana melalui membran berlangsung karena molekul -molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak. Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral, tidak dapat menembus membran secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
• Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
• Ketebalan membran
Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
• Luas suatu area
Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
• Jarak
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
• Suhu
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Sedangkan osmosis adalah perpindahan zat pelarut dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama, jadi apabila kita mempunyai larutan A dan B dimana kedua larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama, maka dikatakan larutan A isotonik dengan larutan B. Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi, sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran.
III. Alat dan Bahan
No. Alat Bahan
1 Gelas piala 50 ml dan 100 ml NaCl 0,9 %
2 Kantong selofan Larutan glukosa 5%
3 Tali, Putih telur
4 Penangas air, Agar
5 Lampu spirtus, AgNO3 1%
6 Cawan petri, Kristal KmnO4
7 Tabung reaksi dan raknya Kristal Metil jingga
8 Pipet tetes Larutan Benedict
9 Batang pengaduk Larutan sukrosa 20%
10 Alat pelubang Larutan sukrosa 40%
11 Penjepit tabung Larutan sukrosa 60%
12 Stopwatch Air suling hangat
13 Gelas ukur 10 ml Larutan agar
14 Neraca analitik HNO3
IV. Prosedur Percobaan
IV.1. Fisiologi
a. Percobaan difusi
i. Difusi sederhana
• Dimasukkan beberapa butir kristal KMnO4 ke dalam gelas kimia
• Diisi setengahnya dengan air
• Dilakukan pengamatan selama 1jam
• Diulangi percobaan menggunakan air hangat
• Diamati perbedaannya (kecepatan difusi pada suhu yang berbeda)
ii. Difusi agar
• Dibuat larutan agar 2% dalam air suling pada gelas piala
• Dididihkan agar tersebut sampai diperoleh larutan bening
• Larutan agar 5ml dituangkan ke cawan Petri da n dibiarkan memadat
• 2 buah lubang dibuat dengan jarak 3 cm, pada agar yang telah memadat
• Diletakkan kristal KMnO4 pada salah satu lubang dan kristal metal jingga pada lubang yang lain
• Dicatat jarak difusi KMnO4 dan metal jingga sebagai fungsi waktu
• Mana yang berdifusi lebih cepat? Mengapa?
iii. Difusi melalui membran
• Dibuat larutan koloidal yang terdiri dari putih telur, natrium klorida 0,9% dan glukosa 5%
• Dimasukkan larutan koloidal ke dalam kantong selofan ¾ penuh
• Diikat kantong selofan dengan rapat
• Digantungkan kantong selofan pada batang pengaduk dengan tali
• Kemudian dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air suling dalam posisi melayang
• Didiamkan selama 1 jam
• Diuji air suling dengan gelas piala terhadap adanya NaCl, albumin dan glukosa setelah 1 jam
Untuk uji difusi melalui membran ini, siapkan 9 buah tabung reaksi, beri nomor 1 sampai 9
Uji terhadap NaCl
• Tabung reaksi 1 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 2 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 3 dimasukkan 3 ml larutan NaCl 0,9 %
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat endapan putih?)
Uji terhadap glukosa
• Tabung reaksi 4 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 5 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 6 dimasukkan 3 ml larutan glukosa
• Tabung reaksi 4, 5, dan 6 ditambahkan 3 ml larutan Benedict
• Dididihkan tabung 4, 5, dan 6 selama beberapa menit, kemudian didinginkan
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terbentuk endapan hijau, kuning atau merah?)
Uji terhadap albumin
• tabung reaksi 7 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• tabung reaksi 8 dimasukkan 3 ml air suling
• tabung reaksi 9 dimasukkan 3 ml putih telur
• tabung 7, 8, dan 9 ditambahkan beberapa tetes HNO3
• diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat kekeruhan?)
b. Percobaan Osmosis
• Disiapkan 5 kantung selofan berukuran sama
• Diisikan masing-msing :
kantong 1 : air hangat 10 ml
kantong 2 : larutan sukrosa 20% 10 ml
kantong 3 : larutan sukrosa 40% 10 ml
kantong 4 : larutan sukrosa 60% 10 ml
kantong 5 : air suling hangat 10 ml
• Ditutup dan diikat dengan tali sehingga tidak terdapat udara dalam kantong
• Ditimbang bobot tiap kantung
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air hangat pada kantong 1 sampai 4
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi larutan sukrosa 60% pada kantong 5
• Setelah 15 menit, diangkat kantong-kantong dan dikeringkan bagian luarnya
• Ditimbang bobot tiap kantong
• Dicelupkan kembali kantong-kantong ke dalam gelas piala masing-masing
• Diulangi pada menit ke-30, 45,60 dan 75
V. Data Pengamatan
i. Difusi Sederhana
tmenit KMnO4
Air hangat Air dingin
t0 ++ +
t10 +++ ++
t20 ++++ +++
t30 +++++ ++++
t40 ++++++ +++++
t50 +++++++ ++++++
t60 ++++++++ +++++++
ii. Difusi Agar
tmenit Diameter
KMnO4 Metil Jingga
t1 0,92 0,72
t2 1,13 0,92
t3 1,41 1,11
t4 1,43 1,1
t5 1,47 1,1
Grafik Perbandingan Kecepatan Difusi Agar
iii. Difusi Membran
Tabung 1 : air panas + AgNO3 ada endapan putih
Tabung 2 : bening
Tabung 3 : endapan putih
Tabung 4 : hijau
Tabung 5 : biru ( setelah dipanaskan 10 menit)
Tabung 6 : merah bata (setelah dipanaskan 10 menit)
Tabung 7 : bening
Tabung 8 : bening
Tabung 9 : keruh
iv. Percobaan Osmosis
Kantong t = 0 menit t = 15 menit t = 30 menit t = 45 menit t = 60 menit t = 75 menit
1 9,33 gram 7,85 gram 6,09 gram 4,56 gram 4,03 gram 3,93 gram
2 10,78 gram 11, 87 gram 12,32 gram 12,76 gram 13,04 gram 13,09 gram
3 11,20 gram 13,04 gram 13,74 gram 14,64 gram 14,79 gram 16,04 gram
4 11,77 gram 15,64 gram 16,97 gram 17,68 gram 18,43 gram 18,85 gram
5 9,67 gram 7,07gram 5,35gram 4,18 gram 3,67 gram 3,44 gram
VI. Gambar Anatomi Tubuh Manusia
VII. Pembahasan
Pada percobaan difusi sederhana, setelah kristal KMnO4 dimasukkan dalam 2 gelas kimia yang berisi air dingin dan hangat, maka kristal KMnO4 mulai berdifusi. Pengamatan dilakukan selama 1 jam dan diamati setiap 10 menit dan hasilnya kristal KMnO4 dalam air hangat berdifusi lebih cepat yang ditandai dengan perubahan warna air yang lebih pekat (ungu pekat) dibandingkan perubahan warna pada air dingin (ungu). Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
Pada difusi agar, setelah larutan agar memadat dan dibuat dua lubang yang berjarak 3 cm, lubang satu dimasukkan kristal KmnO4 dan lubang lainnya dimasukkan metil jingga. Setelah pengamatan dilakukan selama 5 menit dan diamati setiap 1 menit, hasilnya adalah diameter yang dibentuk oleh kristal KMnO4 selalu lebih luas dibandingkan dengan diameter yang dibentuk oleh metil jingga. Hal tersebut menunjukkan bahwa kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Kecepatan difusi ini dipengaruhi oleh perbedaan berat molekul antara kristal KMnO4 dan metil jingga. Berat molekul kristal KMnO4 lebih kecil yaitu 158,03 g/mol dibandingkan dengan berat molekul metil jingga yaitu 327,33 g/mol, sehingga semakin kecil berat molekul maka kecepatan difusi akan semakin cepat. Jadi berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
Pada difusi membran, setelah membuat larutan koloidal (putih telur + NaCl 0,9% + glukosa 5%) yang dibungkus dalam kantong selofan dan direndam dalam gelas piala yang berisi air suling dan kemudian dilakukan uji NaCl, glukosa dan albumin. Pada uji terhadap NaCl, tabung 1 diisi cairan dari gelas piala, tabung 2 diisi dengan air suling dan tabung 3 diisi dengan NaCl. Semua tabung (1,2,3) ditambahkan beberapa tetes AgNO3 dan hasilnya tabung 1 terdapat sedikit endapan putih, tabung 2 larutan bening dan tabung 3 terbentuk endapan putih. Endapan putih yang terbentuk adalah hasil dari reaksi antara NaCl dan AgNO3. Jadi cairan dari gelas piala yang dimasukkan pada tabung 1 mengandung NaCl. Hal ini menunjukka bahwa larutan NaCl dapat menembus kantong selofan yang bersifat seperti membran semipermeabel. Pada uji terhadap glukosa yang ditambahkan dengan larutan Benedict, pada tabung 1 terjadi perubahan warna menjadi hijau, hal ini menunjukkan bahwa cairan dari gelas piala mengandung glukosa dalam jumlah sedikit. Tubung 5 tidak mengalami perubahan warna, sedangkan tabung 6 yang berisi glukosa terjadi endapan merah bata. Struktur glukosa tidak kompleks tetapi berat molekul lebih besar dari NaCl sehingga glukosa dapat berdifusi. Apabila pada glukosa warna yang terjadi sama dengan kontrol maka glukosa tidak dapat berdifusi. Pada uji terhadap albumin yang ditambahkan dengan HNO3, pada tabung 7 dan 8 tidak terjadi reaksi apapun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak larutan albumin pada tabung tersebut dan albumin tidak berdifusi. Pada tabung 9 terdapat endapan putih. Endapan putih tersebut berasal dari reaksi antara albumin dan HNO3. Albumin merupakan protein yang tidak tahan terhadap perubahan pH yang ekstrim. Oleh sebab itu strukturnya akan rusak dan rusaknya struktur tersebut ditandai dengan adanya endapan putih. Jadi dari percobaan difusi membran membuktikan bahwa larutan yang dapat menembus kertas selofan adalah larutan yang memiliki ukuran molekul yang kecil seperti NaCl dan glukosa.
Pada uji osmosis, pencelupan kantong-kantong selofan ( kantong selofan 1-4 dicelupkan ke gelas piala berisi air hangat, dan kantong selofan 5 dicelupkan ke gelas piala berisi larutan sukrosa 60 %) yang menghasilkan bobot ( w ) pada t0, t15, t30,t45,t60 dan t75.
Pada kantong 1 bobot kantong terus berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Seharusnya pada kantong 1 bobot relatif stabil, mungkin terdapat kesalahan dalam penimbangan.pada tabung 1 ini terjadi isotonik yaitu memiliki tekanan isotonik yang sama sehingga tidak mempengaruhi bobot kantong. Pada kantong 2 , 3, 4, bobot kantong meningkat. Pada kantong ini terjadi Larutan hipertonik, yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi dan sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sehingga air akan masuk ke kantong selofan dan membuat bobot kantongbertambah. Sedangkan pada kantong 5 bobot kantong terus berkurang. Hal ini terjadi karena air keluar dari kantong, akibatnya kantong menciut. Pada tabung 5 ini terjadi proses hipotonik yaitu larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran.
VIII. Kesimpulan
Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis.
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion).
Dari percobaan difusi sederhana menunjukkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
Pada difusi agar, kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
Pada difusi membran, larutan NaCl dan glukosa dapat berdifusi karena memiliki ukuran molekul kecil, sedangkan albumin tidak dapat berdifusi karena memiliki ukuran partikel yang besar.
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel.
Pada uji osmosis kantong 1 stabil karena terjadi proses isotonik, kantong 2,3,4 meningkat karena terjadi proses hipertonik dan kantong 5 terjadi proses hipotonik yang menyebabkan bobot kantong berkurang.
Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama.
Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah.
Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi.
Beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
Ukuran partikel
Ketebalan membrane
Luas suatu area
Jarak
Suhu
IX. Daftar Pustaka
Kurnadi, Kemal Adyana. 2001. Anatomi Fisiologi Manusia. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia Edisi Pertama. Penerbit : Graha ilmu. Yogyakarta
Organisasi.org/definisi-pengertian-organ-sistem-organ-fungsi-serta-macam-jenis-sistem-tubuh-manusia – diakses pada tanggal 6 maret 2011
I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat menunjukkan letak organ-organ tubuh, serta dapat menjelaskan sistem transpor dalam tubuh.
II. Teori Dasar
Organ merupakan bagian tubuh yang memiliki satu atau lebih fungsi tertentu. Penyusun organ adalah beberapa jenis jaringan yang terorganisir dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Contoh: usus halus, berfungsi mencerna dan menyerap sari-sari makanan. Struktur usus halus terdiri dari jaringan otot, jaringan epitel, jaringan ikat, dan jaringan saraf. Sistem organ merupakan gabungan dari berbagai organ yang melaksanakan satu fungsi dalam koordinasi tertentu.
Macam-Macam Sistem Organ Pada Manusia :
Sistem Ekskresi berfungsi untuk memindahkan hasil metabolisme yang sudah tidak diperlukan ke luar tubuh sehingga sel-sel tubuh dapat menjaga keseimbangannya terhadap lingkungan. Terdiri atas ginjal, paru-paru (karbon dioksida), hati (racun) dan kulit (keringat).
Sistem Pernapasan adalah sistem yang memiliki fungsi untuk mengambil oksigen, menyediakan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke luar tubuh. Terdiri dari hidung, faring, laring, trakea / trakhea, bronki dan paru-paru.
Sistem Pencernaan adalah sistem yang berfungsi untuk melakukan proses makanan sehingga dapat diserap dan digunakan oleh sel-sel tubuh secara fisika maupun secara kimia. Terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, rektum, hati dan pankreas.
Sistem Peredaran / kardiovaskular adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menjaga tubuh dari penyakit, menyebar sari makanan dan oksigen ke seluruh tubuh serta mengangkut zat-zat sisa ke luar tubuh. Terdiri atas jantung, pembuluh arteri, pembuluh vena, pembuluh kapiler, pembulu getah bening (limfatik) dan kelenjar limfe.
Sistem Reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya.
Sistem Otot adalah sistem tubuh yang memiliki fugnsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka.
Sistem Saraf adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menerima dan merespon rangsangan. Terdiri dari otak, saraf tulang belakang, simpul-simpul syaraf dan serabut syaraf.
Sistem Endokrin adalah sistem yang berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur aktivitas tubuh. Terdiri atas kelenjar tiroid, kelenjar hipofisa/putuitari, kelenjar pankreas, kelenjar kelamin, kelenjar suprarenal, kelenjar paratiroid dan kelenjar buntu.
Sistem Rangka adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menyimpan bahan mineral, tempat pembentukan sel darah, tempat melekatnya otot rangka, melindungi tubuh yang lunak dan menunjang tubuh. Terdiri dari tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang, rangka penopang tulang bahu, rangka penopang tulang pinggul, tulang angota badan atas dan bawah.
Sistem peliput adalah sistem yang terletak di permukaan luar tubuh dan melindungi organ dalam tubuh yang terdiri dari kulit, kuku, dan rambut.
Proses transport materi merupakan salah satu aktivitas yang berlangsung yang berlangsung dalam tubuh kita. Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis. Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi sederhana melalui membran berlangsung karena molekul -molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak. Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral, tidak dapat menembus membran secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
• Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
• Ketebalan membran
Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
• Luas suatu area
Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
• Jarak
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
• Suhu
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Sedangkan osmosis adalah perpindahan zat pelarut dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama, jadi apabila kita mempunyai larutan A dan B dimana kedua larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama, maka dikatakan larutan A isotonik dengan larutan B. Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi, sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran.
III. Alat dan Bahan
No. Alat Bahan
1 Gelas piala 50 ml dan 100 ml NaCl 0,9 %
2 Kantong selofan Larutan glukosa 5%
3 Tali, Putih telur
4 Penangas air, Agar
5 Lampu spirtus, AgNO3 1%
6 Cawan petri, Kristal KmnO4
7 Tabung reaksi dan raknya Kristal Metil jingga
8 Pipet tetes Larutan Benedict
9 Batang pengaduk Larutan sukrosa 20%
10 Alat pelubang Larutan sukrosa 40%
11 Penjepit tabung Larutan sukrosa 60%
12 Stopwatch Air suling hangat
13 Gelas ukur 10 ml Larutan agar
14 Neraca analitik HNO3
IV. Prosedur Percobaan
IV.1. Fisiologi
a. Percobaan difusi
i. Difusi sederhana
• Dimasukkan beberapa butir kristal KMnO4 ke dalam gelas kimia
• Diisi setengahnya dengan air
• Dilakukan pengamatan selama 1jam
• Diulangi percobaan menggunakan air hangat
• Diamati perbedaannya (kecepatan difusi pada suhu yang berbeda)
ii. Difusi agar
• Dibuat larutan agar 2% dalam air suling pada gelas piala
• Dididihkan agar tersebut sampai diperoleh larutan bening
• Larutan agar 5ml dituangkan ke cawan Petri da n dibiarkan memadat
• 2 buah lubang dibuat dengan jarak 3 cm, pada agar yang telah memadat
• Diletakkan kristal KMnO4 pada salah satu lubang dan kristal metal jingga pada lubang yang lain
• Dicatat jarak difusi KMnO4 dan metal jingga sebagai fungsi waktu
• Mana yang berdifusi lebih cepat? Mengapa?
iii. Difusi melalui membran
• Dibuat larutan koloidal yang terdiri dari putih telur, natrium klorida 0,9% dan glukosa 5%
• Dimasukkan larutan koloidal ke dalam kantong selofan ¾ penuh
• Diikat kantong selofan dengan rapat
• Digantungkan kantong selofan pada batang pengaduk dengan tali
• Kemudian dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air suling dalam posisi melayang
• Didiamkan selama 1 jam
• Diuji air suling dengan gelas piala terhadap adanya NaCl, albumin dan glukosa setelah 1 jam
Untuk uji difusi melalui membran ini, siapkan 9 buah tabung reaksi, beri nomor 1 sampai 9
Uji terhadap NaCl
• Tabung reaksi 1 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 2 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 3 dimasukkan 3 ml larutan NaCl 0,9 %
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat endapan putih?)
Uji terhadap glukosa
• Tabung reaksi 4 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 5 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 6 dimasukkan 3 ml larutan glukosa
• Tabung reaksi 4, 5, dan 6 ditambahkan 3 ml larutan Benedict
• Dididihkan tabung 4, 5, dan 6 selama beberapa menit, kemudian didinginkan
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terbentuk endapan hijau, kuning atau merah?)
Uji terhadap albumin
• tabung reaksi 7 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• tabung reaksi 8 dimasukkan 3 ml air suling
• tabung reaksi 9 dimasukkan 3 ml putih telur
• tabung 7, 8, dan 9 ditambahkan beberapa tetes HNO3
• diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat kekeruhan?)
b. Percobaan Osmosis
• Disiapkan 5 kantung selofan berukuran sama
• Diisikan masing-msing :
kantong 1 : air hangat 10 ml
kantong 2 : larutan sukrosa 20% 10 ml
kantong 3 : larutan sukrosa 40% 10 ml
kantong 4 : larutan sukrosa 60% 10 ml
kantong 5 : air suling hangat 10 ml
• Ditutup dan diikat dengan tali sehingga tidak terdapat udara dalam kantong
• Ditimbang bobot tiap kantung
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air hangat pada kantong 1 sampai 4
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi larutan sukrosa 60% pada kantong 5
• Setelah 15 menit, diangkat kantong-kantong dan dikeringkan bagian luarnya
• Ditimbang bobot tiap kantong
• Dicelupkan kembali kantong-kantong ke dalam gelas piala masing-masing
• Diulangi pada menit ke-30, 45,60 dan 75
V. Data Pengamatan
i. Difusi Sederhana
tmenit KMnO4
Air hangat Air dingin
t0 ++ +
t10 +++ ++
t20 ++++ +++
t30 +++++ ++++
t40 ++++++ +++++
t50 +++++++ ++++++
t60 ++++++++ +++++++
ii. Difusi Agar
tmenit Diameter
KMnO4 Metil Jingga
t1 0,92 0,72
t2 1,13 0,92
t3 1,41 1,11
t4 1,43 1,1
t5 1,47 1,1
Grafik Perbandingan Kecepatan Difusi Agar
iii. Difusi Membran
Tabung 1 : air panas + AgNO3 ada endapan putih
Tabung 2 : bening
Tabung 3 : endapan putih
Tabung 4 : hijau
Tabung 5 : biru ( setelah dipanaskan 10 menit)
Tabung 6 : merah bata (setelah dipanaskan 10 menit)
Tabung 7 : bening
Tabung 8 : bening
Tabung 9 : keruh
iv. Percobaan Osmosis
Kantong t = 0 menit t = 15 menit t = 30 menit t = 45 menit t = 60 menit t = 75 menit
1 9,33 gram 7,85 gram 6,09 gram 4,56 gram 4,03 gram 3,93 gram
2 10,78 gram 11, 87 gram 12,32 gram 12,76 gram 13,04 gram 13,09 gram
3 11,20 gram 13,04 gram 13,74 gram 14,64 gram 14,79 gram 16,04 gram
4 11,77 gram 15,64 gram 16,97 gram 17,68 gram 18,43 gram 18,85 gram
5 9,67 gram 7,07gram 5,35gram 4,18 gram 3,67 gram 3,44 gram
VI. Gambar Anatomi Tubuh Manusia
VII. Pembahasan
Pada percobaan difusi sederhana, setelah kristal KMnO4 dimasukkan dalam 2 gelas kimia yang berisi air dingin dan hangat, maka kristal KMnO4 mulai berdifusi. Pengamatan dilakukan selama 1 jam dan diamati setiap 10 menit dan hasilnya kristal KMnO4 dalam air hangat berdifusi lebih cepat yang ditandai dengan perubahan warna air yang lebih pekat (ungu pekat) dibandingkan perubahan warna pada air dingin (ungu). Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
Pada difusi agar, setelah larutan agar memadat dan dibuat dua lubang yang berjarak 3 cm, lubang satu dimasukkan kristal KmnO4 dan lubang lainnya dimasukkan metil jingga. Setelah pengamatan dilakukan selama 5 menit dan diamati setiap 1 menit, hasilnya adalah diameter yang dibentuk oleh kristal KMnO4 selalu lebih luas dibandingkan dengan diameter yang dibentuk oleh metil jingga. Hal tersebut menunjukkan bahwa kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Kecepatan difusi ini dipengaruhi oleh perbedaan berat molekul antara kristal KMnO4 dan metil jingga. Berat molekul kristal KMnO4 lebih kecil yaitu 158,03 g/mol dibandingkan dengan berat molekul metil jingga yaitu 327,33 g/mol, sehingga semakin kecil berat molekul maka kecepatan difusi akan semakin cepat. Jadi berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
Pada difusi membran, setelah membuat larutan koloidal (putih telur + NaCl 0,9% + glukosa 5%) yang dibungkus dalam kantong selofan dan direndam dalam gelas piala yang berisi air suling dan kemudian dilakukan uji NaCl, glukosa dan albumin. Pada uji terhadap NaCl, tabung 1 diisi cairan dari gelas piala, tabung 2 diisi dengan air suling dan tabung 3 diisi dengan NaCl. Semua tabung (1,2,3) ditambahkan beberapa tetes AgNO3 dan hasilnya tabung 1 terdapat sedikit endapan putih, tabung 2 larutan bening dan tabung 3 terbentuk endapan putih. Endapan putih yang terbentuk adalah hasil dari reaksi antara NaCl dan AgNO3. Jadi cairan dari gelas piala yang dimasukkan pada tabung 1 mengandung NaCl. Hal ini menunjukka bahwa larutan NaCl dapat menembus kantong selofan yang bersifat seperti membran semipermeabel. Pada uji terhadap glukosa yang ditambahkan dengan larutan Benedict, pada tabung 1 terjadi perubahan warna menjadi hijau, hal ini menunjukkan bahwa cairan dari gelas piala mengandung glukosa dalam jumlah sedikit. Tubung 5 tidak mengalami perubahan warna, sedangkan tabung 6 yang berisi glukosa terjadi endapan merah bata. Struktur glukosa tidak kompleks tetapi berat molekul lebih besar dari NaCl sehingga glukosa dapat berdifusi. Apabila pada glukosa warna yang terjadi sama dengan kontrol maka glukosa tidak dapat berdifusi. Pada uji terhadap albumin yang ditambahkan dengan HNO3, pada tabung 7 dan 8 tidak terjadi reaksi apapun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak larutan albumin pada tabung tersebut dan albumin tidak berdifusi. Pada tabung 9 terdapat endapan putih. Endapan putih tersebut berasal dari reaksi antara albumin dan HNO3. Albumin merupakan protein yang tidak tahan terhadap perubahan pH yang ekstrim. Oleh sebab itu strukturnya akan rusak dan rusaknya struktur tersebut ditandai dengan adanya endapan putih. Jadi dari percobaan difusi membran membuktikan bahwa larutan yang dapat menembus kertas selofan adalah larutan yang memiliki ukuran molekul yang kecil seperti NaCl dan glukosa.
Pada uji osmosis, pencelupan kantong-kantong selofan ( kantong selofan 1-4 dicelupkan ke gelas piala berisi air hangat, dan kantong selofan 5 dicelupkan ke gelas piala berisi larutan sukrosa 60 %) yang menghasilkan bobot ( w ) pada t0, t15, t30,t45,t60 dan t75.
Pada kantong 1 bobot kantong terus berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Seharusnya pada kantong 1 bobot relatif stabil, mungkin terdapat kesalahan dalam penimbangan.pada tabung 1 ini terjadi isotonik yaitu memiliki tekanan isotonik yang sama sehingga tidak mempengaruhi bobot kantong. Pada kantong 2 , 3, 4, bobot kantong meningkat. Pada kantong ini terjadi Larutan hipertonik, yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi dan sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sehingga air akan masuk ke kantong selofan dan membuat bobot kantongbertambah. Sedangkan pada kantong 5 bobot kantong terus berkurang. Hal ini terjadi karena air keluar dari kantong, akibatnya kantong menciut. Pada tabung 5 ini terjadi proses hipotonik yaitu larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran.
VIII. Kesimpulan
Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis.
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion).
Dari percobaan difusi sederhana menunjukkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
Pada difusi agar, kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
Pada difusi membran, larutan NaCl dan glukosa dapat berdifusi karena memiliki ukuran molekul kecil, sedangkan albumin tidak dapat berdifusi karena memiliki ukuran partikel yang besar.
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel.
Pada uji osmosis kantong 1 stabil karena terjadi proses isotonik, kantong 2,3,4 meningkat karena terjadi proses hipertonik dan kantong 5 terjadi proses hipotonik yang menyebabkan bobot kantong berkurang.
Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama.
Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah.
Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi.
Beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
Ukuran partikel
Ketebalan membrane
Luas suatu area
Jarak
Suhu
IX. Daftar Pustaka
Kurnadi, Kemal Adyana. 2001. Anatomi Fisiologi Manusia. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia Edisi Pertama. Penerbit : Graha ilmu. Yogyakarta
Organisasi.org/definisi-pengertian-organ-sistem-organ-fungsi-serta-macam-jenis-sistem-tubuh-manusia – diakses pada tanggal 6 maret 2011
makalah alkaloid
SIFAT FISIKA
Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya) Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.
SIFAT KIMIA
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya pasangan elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya.
KLASIFIKASI
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai (a) Alkaloid sesungguhnya, (b) Protoalkaloid, dan (c) Pseudoalkaloid. Meskipun terdapat beberapa perkecualian.
(a) Alkaloid Sesungguhnya Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi
yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat “aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
(b) Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin.
(c) Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein))
Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
a. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini adalah : 1. Alkaloid Piridin-Piperidin Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Yang termasuk dalam kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae. 2. Alkaloid Tropan Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sun-sum tulang belakang. Yang termasuk dalam kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata untuk melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus niger, Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora officinarum, Alkaloid Kokain dari Erythroxylum coca (Famili Erythroxylaceae) 3. Alkaloid Quinolin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk disini adalah ; Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin yang toxic terhadap Plasmodium vivax 4. Alkaloid Isoquinolin Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp), Spartium junceum, Cytisus scoparius dan Sophora secondiflora 5. Alkaloid Indol Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol . Ditemukan pada alkaloid ergine dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin dari Catharanthus roseus famili Apocynaceae yang sangat efektif pada pengobatan kemoterapy untuk penyakit Leukimia dan Hodgkin‟s. 6. Alkaloid Imidazol Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini ditemukan pada famili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua. 7. Alkaloid Lupinan Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus (fam : Leguminocaea). 8. Alkaloid Steroid Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada famili Solanaceae, Zigadenus venenosus. 9. Alkaloid Amina Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan pada tumbuhan Ephedra sinica (fam Gnetaceae) 10. Alkaloid Purin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada kopi (Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh (Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex paraguaricasis dari famili Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.
b. Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik
Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon pada rantai samping. 1. Alkaloid Efedrin (alkaloid amine) Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum autumnale. 2. Alkaloid Capsaicin Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu ; Capsicum pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.
IDENTIFIKASI
Dua metode yang paling banyak digunakan untuk menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid. Prosedur Wall, meliputi ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan 80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid quartener. Prosedur Kiang-Douglas agak berbeda terhadap garam alkaloid yang terdapat dalam tanaman (lazimnya sitrat, tartrat atau laktat). Bahan tanaman kering pertama-tama diubah menjadi basa bebas dengan larutan encer amonia. Hasil yang diperoleh kemudian diekstrak dengan kloroform, ekstrak dipekatkan dan alkaloid diubah menjadi hidrokloridanya dengan cara menambahkan asam klorida 2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji terhadap alkaloidnya dengan menambah pereaksi mayer,Dragendorff atau Bauchardat. Perkiraan kandungan alkaloid yang potensial dapat diperoleh dengan menggunakan larutan encer standar alkaloid khusus seperti brusin. Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk memisahlkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti merkuri, bismuth, tungsen, atau jood. Pereaksi mayer mengandung kalium jodida dan merkuri klorida dan pereaksi Dragendorff mengandung bismut nitrat dan merkuri klorida dalam nitrit berair. Pereaksi Bouchardat mirip dengan pereaksi Wagner dan mengandung kalium jodida dan jood. Pereaksi asam silikotungstat menandung kompleks silikon dioksida dan tungsten trioksida. Berbagai pereaksi tersebut menunjukkan perbedaan yang besar dalam halsensitivitas terhadap gugus alkaloid yang berbeda. Ditilik dari popularitasnya, formulasi mayer kurang sensitif dibandingkan pereaksi wagner atau dragendorff. Kromatografi dengan penyerap yang cocok merupakan metode yang lazim untuk memisahkan alkaloid murni dan campuran yang kotor. Seperti halnya pemisahan dengan kolom terhadap bahan alam selalu dipantau dengan kromatografi lapis tipis. Untuk mendeteksi alkaloid secara kromatografi digunakan sejumlah pereaksi. Pereaksi yang sangat umum adalah pereaksi Dragendorff, yang akan memberikan noda berwarna jingga untuk senyawa alkaloid. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa beberapa sistem tak jenuh, terutama koumarin dan α-piron, dapat juga memberikan noda yang berwarna jingga dengan pereaksi tersebut. Pereaksi umum lain tetapi kurang digunakan adalah asam fosfomolibdat, jodoplatinat, uap jood, dan antimon (III) klorida. Kebanyakan alkaloid bereaksi dengan pereaksi-pereaksi tersebut tanpa membedakan kelompok alkaloid. Sejumlah pereaksi khusus tersedia untuk menentukan atau mendeteksi jenis alkaloid khusus. Pereaksi Ehrlich (p-dimetilaminobenzaldehide yang diasamkan) memberikan warna yang sangat karakteristik biru atau abu-abu hijau dengan alkaloid ergot. Perteaksi serium amonium sulfat (CAS) berasam (asam sulfat atau fosfat) memberikan warna yang berbeda dengan berbagai alkaloid indol. Warna tergantung pada kromofor ultraungu alkaloid. Campuran feriklorida dan asam perklorat digunakan untuk mendeteksi alkloid Rauvolfia. Alkaloid Cinchona memberikan warna jelas biru fluoresen pada sinar ultra ungu (UV) setelah direaksikan dengan asam format dan fenilalkilamin dapat terlihat dengan ninhidrin. Glikosida steroidal sering dideteksi dengan penyemprotan vanilin-asam fosfat. Pereaksi Oberlin-Zeisel, larutan feri klorida 1-5% dalam asam klorida 0,5 N, sensitif terutama pada inti tripolon alkaloid kolkisin dan sejumlah kecil 1 μg dapat terdeteksi.
SIMPLISIA
1. Alkaloid Piridin-Piperidin
Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen, dengan struktur inti :
Golongan ini dibagi dalam 4 sub golongan : 1. Turunan Piperidin, meliputi piperini yang diperoleh dari Piperis nigri Fructus; yang berasal dari tumbuhan Piperis nigri (fam : Piperaceae) berguna sebagai bumbu dapur. 2. Turunan Propil-Piperidin, meliputi koniin yang diperoleh dari Conii Fructus; yang berasal dari tumbuhan Conium maculatum (Fam: Umbelliferae) berguna sebagai antisasmodik dan sedatif. 3. Turunan Asam Nikotinan, meliputi arekolin yang diperoleh dari Areca Semen; yang berasal dari tumbuhan Areca catechu (fam: Palmae) berguna sebagai anthelmentikum pada hewan. 4. Turunan Pirinin & Pirolidin, meliputi nikotin yang diperoleh dari Nicoteana Folium; yang berasal dari tumbuhan Nicotiana tobaccum (fam: Solanaceae) berguna sebagai antiparasit, insektisida dan antitetanus. Tumbuhan yang juga mengandung alkaloid ini adalah kuli dari Punica granatum (fam: Punicaceae) yang berguna sebagai taenifuga.
2. Alkaloid Tropan
Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sumsum tulang belakang, struktur intinya :
1. Hiosiamin dan Skopolamin
Berasal dari tumbuhan Datura stramonium, D. Metel (fam Solanaceae), tumbuh pada daerah yang memiliki suhu yang panas daun dan bijinya mengandung alkaloid Skopolamin; berfungsi sebagai antispasmodik dan sedative. Pada tumbuhan Hyoscyamus muticus dan H. Niger (fam Solanaceae), tumbuh didaerah Amerika Selatan dan Kanada dikenal dengan nama “Henbane” daun dan bijinya digunakan sebagai relaksan pada otot.
2. Kokain
Senyawa ini berfungi sebagai analgetik narkotik yang menstimulasi pusat syaraf, selain itu juga berfungsi sebagai antiemetik dan midriatik. Zat ini bersal dari daun tumbuhan Erythroxylum coca, E. Rusby dan E. Novogranatense (fam Erythroxylaceae). Kokain lebih banyak disalahgunakan (drug abuse) oleh sebagian orang dengan nama-nama yang lazim dikalangan mereka seperti snow, shabu-shabu, crak dan sebagainya. 3. Atropin, Apotropin dan Belladonina Atropa dari bahasa Yunani yaitu terdiri dari kata “Atropos” yang berarti tidak dapat dibengjokkan atau disalahgunakan, ini disebabkan karena belladona merupakan obat yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kematian. Belladonna barasal dari bahasa Italia “Bella” artinya cantik dan “Donna” artinya wanita. Bila cairan buah diteteskan pada mata akan menyebabkan dilatasi dari pupil mata sehingga menjadi sangat menarik Akar dan daun tumbuhan Atropa belladonna (fam Solanaceae) merupakan sumber dari senyawa ini, digunakan sebagai antispamolitik, antikolinergik, anti asma dan midriatik. Zat ini merupakan hasil dari hiosiamin selama ekstraksi sehingga tak dapat ditemukan dalam tanaman. Atropin yang dihasilkan secara sintetik lebih mahal daripada yang berasal dari ekstraksi dari tanaman dan tidak dapat disaingi harganya.
3. Alkaloid Quinolin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dengan struktur inti seperi di bawah ini:
1. Kinina, Kinidina, Sinkonidin, Sinkonidina
Senyawa ini pada umumnya berguna sebagai anti malaria, alkaloid ini terdapat pada kulit batang (cotex) dari tumbuhan Cinchona succirubra (fam : Rubiaceae). Ada beberapa jenis dari Cinchona diantaranya C. Calisaya yang berwarna kuning berasal dari Peru dan Bolivia, C. Officinalis dan C. Ledgeriana lebih banyak di Indonesia yang ditanam di pulau jawa. Sebelum PD II Indonesia menyuplai 90% kebutuhan kina di dunia, ketika Jepang memutuskan suplai ini maka diusahan beberapa obat antimalaria sintetik (kloroquin, kunaikri dan primakrin) untuk menggantika kina.
2. Akronisina
Berasal dari kulit batang tumbuhan Acronychia bauery (fam : Rutaceae, berfungsi sebagai antineoplastik yang tealah diujikan pada hewan coba dan diharapkan mampu merupakan obat yang efektif untuk kemoterapi neoplasma pada manusia.
3. Camptothecin.
Diperoleh dari buah, sebagian kayu atau kulit dari pohon Camptotheca acuminata (fam : Nyssaceae), suatu pohon yang secara endemik tumbuh di daratan cina. Ekstrak dari tumbuhan ini ternyata mempunyai keaktifan terhadap leukemia limpoid.
4. Viridicatin
Merupakan subtansi antibiotik dari mycelium jamur Penicillium viridicatum (fam : Aspergillaceae), senyawa ini aktif untuk semua jenis Plasmodium (kecuali P. vivax) penyebab malaria. Penggunaan senyawa ini memiliki efek samping berupa Cindronism yaitu pendengaran berkuran.
4. Alkaloid Isoquinolin
Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen dengan struktur inti :
1. Morfin
Penggunaan morfin khusus pada nyeri hebat akut dan kronis , seperti pasca bedah dan setelah infark jantung, juga pada fase terminal dari kanker.Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai : 1). Infark miokard; 2). Mioplasma;3). Kolik renal atau kolik empedu ; 4). Oklusio akut pembuluh darah perifer , pulmonal atau koroner;5) perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan dan 6). Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar , fraktur dan nyeri pasca-bedah. Morfin diperoleh dari biji dan buah tumbuhan Papaver somniferum dan P. Bracheatum (fam : Papaveraceae) salah satu hasil tanaman ini berupa hasil sadapan dari getah buah yang dikenal sebagai “opium” yang berarti candu, Candu merupakan „ibu‟ dari morfin, mulanya dikembangkan sebagai obat penghilang rasa sakit sekitar tahun 1810. Morfin dikategorikan sebagai obat yang ajaib karena mampu mengurangi rasa sakit akibat operasi atau luka parah. Pada saat dikonsumsi, obat ini menyebabkan penggunanya berada dalam kondisi mati rasa sekaligus diliputi perasaan senang/ euforia seperti sedang berada dalam alam mimpi. Oleh karena efek sampingnya yang berupa euforia ini, pada tahun 1811 obat ini diberi nama Morpheus sama seperti nama dewa mimpi Yunani oleh Dr. F.W.A. Serturner, seorang ahli obat dari Jerman. Pertengahan tahun 1850, morfin telah tersedia di seluruh Amerika Serikat dan semakin populer dalam dunia kedokteran. Morfin dimanfaatkan sebagai obat penghilang rasa sakit yang membuat takjub dokter-dokter pada masa itu. Sayangnya, ketergantungan terhadap obat tersebut terlewatkan, tidak terdeteksi sampai masa Perang Saudara berakhir. Dengan adanya penggunaan yang berlebihan yang terus menerus ataupun kadang-kadang dari suatu obat yang secara tidak layak atau menyimpang dari norma pengobatan yang lazim maka hal tersebut dikatakan drug abuse terlebih lagi apabila pada pemakaian morfin sebagai obat keras. Morfin tergolong kedalam hard drugs yakni zat-zat yang pada penggunaan kronis menyebabkan perubahan – perubahan dalam tubuh si pemakai, sehingga penghentiannya menyebabkan gangguan serius bagi fisiologi tubuh, yang disebut gejala penarikan atau gejala abstimensi. Gejala ini mendorong bagi si pecandu untuk terus menerus menggunakan zat – zat ini untuk menghindarkan timbulnya gejala abstimensi.dilain pihak , dosis yang digunakan lambat laun harus ditingkatkan untuk memperoleh efek sama yang dikehendaki (toleransi). Hard drugs menyebabkan ketergantungan fisik (ketagihan ) hebat dan menyebabkan toleransi terhadap dosis yang digunakan.
2. Emetina
Senyawa ini berfunsi sebagai emetik dan ekspektoran, diperoleh dari akar tumbuhan Cephaelis ipecacuanha dan C. Acuminata (fam : Rubiaceae) 3. Hidrastina dan Karadina Senyawa ini berasal dari tumbuhan Hydrastis canadensis (fam : Ranunculaceae) dikenal pula sebagai Yellowroot; bagian yang digunakan berupa umbi akar berkhasiat sebagai adstrigensia pada radang selaput lendir. 4. Beberina Berupa akar dan umbi akar dari tumbuhan Berberis vulgaris (dari Oregon), B. Amition (dari Himalaya), dan B. aristaca (India) dari familia Berberidaceae yang berguna sebagai zat pahit/amara dan antipiretik.
5. Alkaloid Indol
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol dengan inti seperti di bawah ini :
1. Reserpina
Merupakan hasil ekstraksi dari akar tumbuhan Rauwolfia serpentine dari suku Apocynaceae yang terkadang bercampur dengan fragmen rhizima dan bagian batang yang melekat padanya. Senyawa ini berfungsi sebagai antihipertensi. Dalam perdagangan terdapat 5 jenis yaitu R. Serpentine, R. Canescens, R. Micratha, dan R. Tetraphylla. Selain sebagai anti hipertensi juga berfungsi sebagai traqulizer (penenang),
2. Vinblastina, Vinleusina, Vinrosidina, Vinkristina
Diperoleh dari tumbuhan Vinca rosea, Catharanthus roseus (fam : Apocynaceae) berupa herba yang berkhasiat sebagai antitumor.
3. Sriknina & Brusina
Berasal dari tumbuhan Strychnos nux-vomica dan S. ignatii (fam :Loganiaceae) yang terdapat di Filifina, Vietnam dan Kamboja. Bagian tanaman yang diambil berupa ekstrak biji yang telah kering dengan khasiat sebagai tonikum dalam dosis yang kecil sedangkan dalam pertanian digunakan sebagai ratisida (racun tikus).
4. Fisostigmina & Eserina
Simplisianya dikenal dengan nama Calabar bean, ordeal bean, chop nut dan split nut berupa biji dari tumbuhan Physostigma venenosum (fam : Leguminosae) yang berkhasiay sebagai konjungtiva pengobatan glaukoma.
5. Ergotoksina, Ergonovina, & Ergometrina
Alkaloid ini asalnya berbeda dibandingkan dengan yang lain, sebab berasal dari jamur yang menempel pada sejenis tumbuhan gandum yang kemudian dikeringkan. Jamur ini berguna sebagai vasokonstriktor untuk penyakit migrain yang spesifik dan juga sebagai oxytoksik. Diperoleh dari sisik jamur yang menempel pada tumbuhan Claviceps purpurea (fam: Hypocreaceae), jamur ini merupakan parasit pada tumbuhan tersebut, selain itu jamur ini juga terdapat pada tumbuhan Secale cornutum (fam: Graminae). 6. Kurare Diperoleh dari kulit batang Stricnos crevauxii, C. Castelnaci, C. Toxifera (fam:loganiaceae) dan Chondodendron tomentosum (fam: Menispermaceae) yang berguna sebai relaksan pada otot.
6. Alkaloid Imidazol
Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen, dengan inti :
Lingkaran Imidazol merupakan inti dasar dari pilokarpin yang berasal dari daun tumbuhan Pilocarpus jaborandi atau Jaborandi rermambuco, P. Microphylus atau J. marashm, dan P. Pinnatifolius atau J. Paraguay dari familia Rutaceae yang berkhasiat sebagai konjungtiva pada penderita glaukoma.
7. Alkaloid Lupinan
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, intinya adalah :
alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus, Cytisus scopartus (fam : Leguminocaea) dan Anabis aphylla (fam : Chenopodiaceae) berupa daun tumbuhan yang telah dikeringkan berkhasiat sebagai oksitoksik.
8. Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Inti dari steroid adalah :
Alkaloid steroid terbagi atas 3 golongan yaitu :
1. Golongan I : Sevadina, Germidina, Germetrina, Neogermetrina, Gemerina, Neoprotoperabrena, Veletridina
2. Golongan II : Pseudojervina, Veracrosina, Isorobijervosia
3. Golongan III : Germina, Jervina, Rubijervina, Isoveratromina
1. Germidina, Germitrina Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum viride (fam: Liliaceae) yang berguna sebagai antihipertensi.
2. Protoveratrin Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum album (fam : Liliaceae) yang berguna sebagai insektisida & antihioertensi.
3. Sevadina Diperoleh dari biji sebadilla (Sebadilla Semen) dari tumbuhan Schonecaulon officinalis (fam: Liliaceae) berguna sebagai insektisida.
9. Alkaloid Amina
Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin.
1. Efedrina
Berasal dari herba tumbuhan Ephedra distachya, E. Sinica dan E. Equisetina (fam : Gnetaceae) berguna sebagai bronkodilator. Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama “Ma Huang” dalam bahasa Cina “Ma” berarti sepat sedangkan „Huang” berati kuning, hal ini mungkin dihubungkan dengan rasa dan warnan simplisia ini. Selain dari persenyawaan alam, alkaliod ini juga dibuat dalam bentuk sintetis garam seperti Efedrin Sulfat dan Efedrin HCl yang berbetuk kristal, sifatsifat farmakologiknya sama dengan Efedrin dan dipakai sebagai simpatomimetik.
2. Kolkisina
Alkaloid ini berasal dari biji tumbuhan Colchicum autumnalei (fam : Liliaceae) berguna sebagai antineoplasmik dan stimulan SSP, selain pada biji kormus (pangkal batang yang ada di dalam tanah) tumbuhan ini juga mengandung alkaloid yang sama.
3. d- Norpseudo Efedrina
Senyawa di atas diperoleh dari daun-daun segar tumbuhan Catha edulis (fam : Celastraceae) nama lain dari tumbuah ini dalah Khat atau teh Abyssina, tumbuhan ini berupa pohon kecil atau semak-semak yang berasal dari daerah tropik Afrika Timur. Khasiat dari simplisia ini adalah stimulan pada SSP.
4. Meskalina
Diperoleh dari sejenis tumbuhan cactus Lophophora williamsii (fam : Cactaceae) dikenal dengan nama Peyote yang dapat menyebabkan halusinasi dan euphoria
10. Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen; dengan inti :
Susunan inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin yang tergabung dengan Imidazole
1. Kafeina (1,3,7, Trimetil Xanthin)
Alkaliod ini diperoleh dari biji kopi Coffe arabica, C. Liberica (fam: Rubiaceae) mengandung kafein. Aksi dari kopi pada prinsipnya di dasarkan pada daya kerja kafein, yang bekerja pada susunan syaraf pusat, ginjal, otot – otot jantung. tumbuhan lain yang juga mengandung caffein seperti camellia sinensis (fam: Theaceae), cola nitida (fam starculiaceae).
2. Theobromina (3,7 Dimetil Xantin)
Diperoleh dari biji tumbuhan Theobroma cacao (fam: Sterculaceae) yang berguna sebagai diuretik dan stimulan SSP.
3. Theofilina (1,3 Dimetil Xantin)
Merupakan isomerdari 1,3 dimetil xantin (isomer Theobromina) yang berguna sebagai bronkodilator dan diuretik)
1. Deteksi amin 20 dengan
2. Asam amino basa yaitu Lisin, histidin, arginin
3. Alkaloid dalam fungi Trichoderma viridae gliotoksin
4. Alkaloid cair pada suhu kamar nikotin, konini, spartein
5. Alkaloid inti tropan
6. Inti kokain tropan
7. Alkaloid dalam Lophophora williamsi Alkaloid isokinolin sederhana (ancholamin, anhalidin, anhalonidin), meskalin à utama
8. Asam amino yang bukan protein dalam tumbuhan GABA
9. Asama amino 30 banyak dalam tumbuhan tiramin
10. Alkaloid N-alifatik efedrin, muscarin, meskalin
11. Asam amino netral glisin, alanin, valin, leusin isoleusin
12. Pereaksi asam amini ninhidrin
13. Alkaloid inti tropan solanaceae (atropine, datura, hyoscyamus)
14. Alkaloid bukan tumbuhan Batrachotoxin à katak beracun, Phyllobates aurotaenia. Castoamin à Cenadian beaver, muskopiridin à dari sejenis rusa, piosianin à Pseudomonas aeruginosa, gliotoxin à fungi Trichoderma viridae
15. Senyawa N penting sebagai hormone tumbuhan
16. Vasicin (P. harmala), asam amino derivat asam antranilat
17. Biosintesis terpen dimulai dari asetil coA à asam asetat, asam mevalonat
18. KLT minyak atsiri benzene – CHCl3 , benzene-etil asetat
19. Isomer geraniol nerol
20. Inti tropan merupakan kombinasi dari pirolidin-piperidin
21. Alkaloid inti pirolidin higrin, cuscohigrin
22. Alkaloid bukan/tidak memiliki inti aromatis efedrin, muskarin, meskalin
23. Genus yang memiliki alkaloid inti tropan atropa, datura, hyoscyamus, scopelia
24. Deteksi amin alifatik 10 ninhidrin & 2-asetoasetilfenol
25. Senyawa yang merupakan hormone tumbuhan giberelin
26. Pipekolat à analog prolin à 1 gugus CH3 lebih banyak
27. Asam azetidina 2-karbox à analog prolin à 1 gugus CH3 lebih sedikit
28. Alkaloid papaver terikat oleh asam mevalonat
29. Biosintesis alkaloid kinin berasal dari triptofan, tirosin, asam mevalonat
30. Pemecah pelarut dan basa pada analisis kinin di FI3 adalah pemecah asam formiat
31. Alkaloid lain dari kini kupredein, kuprein, sinkonasin
32. Alkaloid kinin termasuk golongan alkaloid kuinolon
33. Vinca alkaloid kebanyakan dengan inti indol dan turunan dihidroindol
34. Alkaloid yang berasal dari fenilalanin efedra
35. Alkaloid hyoscyamin selain fistostigmin oseramin, geneserin
36. Alkaloid strychnine (Strychnos nox vumica) colubrine A,B; vomicin; novacin; spernotrychnin; pseudostrychnin
37. Alkaloid utama strychnos vox vumica strychnine & brucin
38. Yang termasuk terpen alkaloid strychnine dan reserpin
39. Alkaloid yang punya inti fenantren papaverin, narkotin, nasein
40. Biosintesis alkaloid morfin berasal dari sintesis tirosin
41. Alkaloid fistostigmin berasal dari aa triptofan
42. Asam amino bukan protein aspartat, glutamate, A,B,G butirat
43. Poliamin alifatik tersebar luas agmatin, spermidin, spermina, hisperidin
44. Terpen bau khas monoterpen &sekuisterpen
45. Identifikasi terpen KMnO4, SbCl3, H2SO4, uap brom
46. Deteksi triterpen steroid carr-price, Liebermann-bouchard, h2so4/air/alcohol
47. Deteksi senyawa alkaloid dengan dragendorf, iodoplatinat, marquis, formaldehid/h2so4(p)
. Penetapan Kadar Morfin (C17H19NO3) :
a. Penetapan kadar morfin HCl (berdasarkan Farmakope Indonesia IV halaman 568) :
1. Timbang seksama ± 350 mg sampel, larutkan dalam 30 ml asam asetat glasial P (panaskan jika perlu)
2. Dinginkan dan tambahkan 6 ml Raksa (II) Asetat LP dan kristal violet LP sebagai indikator
3. Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV
4. Lakukan penetapan blanko
5. 1 ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 32,18 mg C17H19NO3.HCl
b. Penetapan Kadar Opium (berdasarkan Farmakope Indonesia IV halaman 632) :
1. Timbang seksama ± 8 gr sampel, gerus dalam mortir dengan 10 ml air, ad homogen
2. Tambahkan 20 ml air dan 20 mg Ca(OH)2 P
3. Pindahkan sampel ke labu secara kuantitatif, bilas mortir dengan air hingga bobot 90 gr
4. Tutup labu, diamkan 30 menit dengan sesekali dikocok
5. Saring hingga filtrat dan residu terpisah. 52 ml filtrat ≈ ± 5 gr zat
6. Masukkan filtrat ke dalam erlenmeyer, tambahkan 5 ml etanol P 90% dan 25 ml eter P. Tutup erlenmeyer dan kocok
7. Tambahkan 2,0 gr Ammonium Klorida P, kocok 5 menit,diamkan 30 menit dengan sesekali dikocok (sehingga jumlah waktu pengocokan ± 15 menit)
8. Diamkan semalam hingga lapisan eter terdekantasi sempurna. Melalui corong berisi kapas, bilas labu dan isinya dengan 10 ml eter P, tuang larutan melalui penyaring tanpa menuangkan seluruh hablur
9. Cuci labu penyaring dengan air bermorfin LP hingga filtrat bebas klorida
10. Bilas hablur pada penyaring, kembalikan ke dalam labu dan tambahkan 30 ml asam sulfat 0,1 N LV
11. Didihkan, dinginkan dan filtrasi kelebihan asam dengan Natrium Hidroksida 0,1 N LV
12. Tambahkan indikator metil merah LP
13. 1 ml asam sulfat 0,1 N ≈ 28,53 mg C17H19NO3
Senyawa Nitrogen
asam amino, amina, alkaloid, glikosida sianogenik
Asam Amino
Ada 2 golongan, yi aa protein (as. Glutamate, as. Aspartat, asparagin) dan aa non protein (histidin, triptofan, sistein, metionin).
Sifat: tidak berwarna, ttitik leleh tinggi, larut dalam air, bentuk ester lebih mudah menguap
Penggolongan berdasarkan gugus karboksilat & amida :
1. Aa netral : glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin
2. Aa basa : lisin, histidin, arginin
3. Aa asam : as. Glutamate, as. Aspartat
Penggolongan :
1. Aa heterosiklik : asam asetidin-2-karboksilat, 4-metil-prolin, asam pipekolat
2. Aa dekarboksilat : asam-G-metil glutamate, asam-A-adloat
3. Aa mengandung sulfur : alliin, 5-metil sistein, asam jengkolat
4. Aa hidroksi : homoserin, G-hidroksi valin, asam-G-hidroksi glutamate
Isolasi / pemisahan : biasanya digunakan elektroforesa dan permukaan ion :
1. KKT : 2 arah à butanol:HAc:air=4:1:1 ; fenol:air=3:1
2. KLT : 1-2 arah à selulosa = fase diam ; kloroform:meOH:NH4OH=2:2:1 ; fenol:air=3:1
Deteksi :
1. Larutan 0,1% ninhidrin / BuOH / EtOH (1000C) biru kelabu
2. Elekktroforesa : cepat, baik, akurat
3. HPLC
4. KGC : harus zat mudah menguap
Biosintesis amina à dekarboksilasi asam amino, transaminase senyawa aldehid
Penggolongan berdasarkan jumlah gugus NH2 :
1. Moniamin alifatik
Metilamin, heksilamin (tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi, mudah menguap, konsentrasi >>> à bau tidak enakk)
1. Diamin dan poliamin
Kurang atsiri, bau tdk enak . eg : putresin, agmatin, sperinidin, spermina, kadaverin
1. Amina aromatic
Noradrenalin, histamine, tiramina, holdenina
Analisis amin alifatik :
1. KKt : n-butanol-HAc-H2O=4:1:5
2. 10 : ninhidrin : merah à ungu; 2-asetoasetilfenol 1% / EtOH à fluorosensi kuning (spesifik)
3. 20 : ninhidrin à warna lemah (cenderung biru); na nitroprussid + asetanilid 10% +Na2CO3 20% à biru
4. 30 : dragendorf à jingga
5. KGC : karena mudah menguap
6. KLT : selulosa MN 30, lebih baik gabungan KLT dan elektroforesis
Analisis amin aromatic :
1. KKT : n-BuOH:HAc:H2O=12:3:5 ; Isopropyl-NH4OH-H2O=20:1:2 ; n-BuOH:piridin:H2O=1:1:1 ; n-propanol:NH4OH=5:1
2. KLT : silica gel (petroleum eter:aseton=7:3 ; CHCl3:EtOH:HAc=6:3:1)
Alkaloid
* Senyawa N organic à bersifat basa, cincin heterosiklik
* Berbentuk Kristal tidak berwarna, tidak berbau, rasa pahit,
* Umumnya optic aktif à isomer à perhatikan waktu ekstraksi
* Bentuk garam mudah larut dalam air, bentuk asam sukar larut dalam air
* Banyak yang mempunyai efek gfarkol à bermafaat sebagai obat à sifatnya terhadap system saraf
* Dalam tumbuhan biasanya berbentuk garam
* Asam organic : asam asetat, sitrat, tartrat
* Asam oranik khusus : asam kinat, asam mekonat
* Perkecualian :
o Tidak bersifat basa : kafein, koklisin, nisin
o Berbentuk cair : nikotin, zeomiin, spartein
o Kerja tidak terhadar system saraf : kinin
Reaksi warna :
1. Coffein : – semua
2. Hyoscyamin (atropine) : wasicky à merah – violet (pemanasan)
3. Kodein : HNO3(p) à kuning-coklat pucat ; Erdmann à hijau-coklat; frohde à hijau-biru; mandolin à biru-violet; wasicky à merah terang (pemanasan); mecke à biru jadi ijo
4. Papaverin : hno3(p)à kuning pucat; Erdmann à kuning pucat; frohde à violet biru jadi kuning; mandolin –? Biru hijau jadi biru; wasicky à jingga (pemanasan); marquis à merah anggur jadi kuning jingga; mecke à hijau buri jadi merah jadi violet tua (pemanasan)
5. Morphin : HNO3(p) à jingga jadi kuning; Erdmann à kecoklatan; frohde à merah violet jadi hijau; mandolin à violet; wasicky à merah terang (pemanasan); marquis à merah violet; mecke à biru, biru hijau
6. Emetin : HNO3(p) à kuning jadi orange; Erdmann à hijau kuning; frohde à hijau
7. Strychnine : HNO3(p) à kuning; mandolin à biru violet jadi merah
Sintesis hyoscyamin :
Ornitin à n-metilpirollinium ion à tropin
Fenilalanin à asam tropic/ asam aropat
Tropin +asam aropat à hyoscyamin
Pembentukan inti tropan :
Ornitin à n-metil-putrosin à n-metil… à higrin à tropin
Contoh alkaloid tropan : hyoscyamin, skopolamin, meteloidin
Alkaloid tropan : solanaceae, concolculaceae, dioscoreaceae, erythroxylaceae
Biosintesis fenilalanin, tirosin, triptofan :
Asam sikimat à 3-cnoylpiruvyls à asam khorismat à triptofan
Asam khorismat à asam prephenat à pretirosin, p-hidroksifenil piruvic acid, asam fenil piruvat à fenilalanin
Pretirosin & p-hidroksifenl piruvic acid à tirosin
Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya) Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.
SIFAT KIMIA
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya pasangan elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya.
KLASIFIKASI
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai (a) Alkaloid sesungguhnya, (b) Protoalkaloid, dan (c) Pseudoalkaloid. Meskipun terdapat beberapa perkecualian.
(a) Alkaloid Sesungguhnya Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi
yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat “aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
(b) Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin.
(c) Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein))
Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
a. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini adalah : 1. Alkaloid Piridin-Piperidin Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Yang termasuk dalam kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae. 2. Alkaloid Tropan Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sun-sum tulang belakang. Yang termasuk dalam kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata untuk melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus niger, Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora officinarum, Alkaloid Kokain dari Erythroxylum coca (Famili Erythroxylaceae) 3. Alkaloid Quinolin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk disini adalah ; Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin yang toxic terhadap Plasmodium vivax 4. Alkaloid Isoquinolin Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp), Spartium junceum, Cytisus scoparius dan Sophora secondiflora 5. Alkaloid Indol Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol . Ditemukan pada alkaloid ergine dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin dari Catharanthus roseus famili Apocynaceae yang sangat efektif pada pengobatan kemoterapy untuk penyakit Leukimia dan Hodgkin‟s. 6. Alkaloid Imidazol Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini ditemukan pada famili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua. 7. Alkaloid Lupinan Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus (fam : Leguminocaea). 8. Alkaloid Steroid Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada famili Solanaceae, Zigadenus venenosus. 9. Alkaloid Amina Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan pada tumbuhan Ephedra sinica (fam Gnetaceae) 10. Alkaloid Purin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada kopi (Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh (Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex paraguaricasis dari famili Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.
b. Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik
Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon pada rantai samping. 1. Alkaloid Efedrin (alkaloid amine) Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum autumnale. 2. Alkaloid Capsaicin Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu ; Capsicum pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.
IDENTIFIKASI
Dua metode yang paling banyak digunakan untuk menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid. Prosedur Wall, meliputi ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan 80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid quartener. Prosedur Kiang-Douglas agak berbeda terhadap garam alkaloid yang terdapat dalam tanaman (lazimnya sitrat, tartrat atau laktat). Bahan tanaman kering pertama-tama diubah menjadi basa bebas dengan larutan encer amonia. Hasil yang diperoleh kemudian diekstrak dengan kloroform, ekstrak dipekatkan dan alkaloid diubah menjadi hidrokloridanya dengan cara menambahkan asam klorida 2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji terhadap alkaloidnya dengan menambah pereaksi mayer,Dragendorff atau Bauchardat. Perkiraan kandungan alkaloid yang potensial dapat diperoleh dengan menggunakan larutan encer standar alkaloid khusus seperti brusin. Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk memisahlkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti merkuri, bismuth, tungsen, atau jood. Pereaksi mayer mengandung kalium jodida dan merkuri klorida dan pereaksi Dragendorff mengandung bismut nitrat dan merkuri klorida dalam nitrit berair. Pereaksi Bouchardat mirip dengan pereaksi Wagner dan mengandung kalium jodida dan jood. Pereaksi asam silikotungstat menandung kompleks silikon dioksida dan tungsten trioksida. Berbagai pereaksi tersebut menunjukkan perbedaan yang besar dalam halsensitivitas terhadap gugus alkaloid yang berbeda. Ditilik dari popularitasnya, formulasi mayer kurang sensitif dibandingkan pereaksi wagner atau dragendorff. Kromatografi dengan penyerap yang cocok merupakan metode yang lazim untuk memisahkan alkaloid murni dan campuran yang kotor. Seperti halnya pemisahan dengan kolom terhadap bahan alam selalu dipantau dengan kromatografi lapis tipis. Untuk mendeteksi alkaloid secara kromatografi digunakan sejumlah pereaksi. Pereaksi yang sangat umum adalah pereaksi Dragendorff, yang akan memberikan noda berwarna jingga untuk senyawa alkaloid. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa beberapa sistem tak jenuh, terutama koumarin dan α-piron, dapat juga memberikan noda yang berwarna jingga dengan pereaksi tersebut. Pereaksi umum lain tetapi kurang digunakan adalah asam fosfomolibdat, jodoplatinat, uap jood, dan antimon (III) klorida. Kebanyakan alkaloid bereaksi dengan pereaksi-pereaksi tersebut tanpa membedakan kelompok alkaloid. Sejumlah pereaksi khusus tersedia untuk menentukan atau mendeteksi jenis alkaloid khusus. Pereaksi Ehrlich (p-dimetilaminobenzaldehide yang diasamkan) memberikan warna yang sangat karakteristik biru atau abu-abu hijau dengan alkaloid ergot. Perteaksi serium amonium sulfat (CAS) berasam (asam sulfat atau fosfat) memberikan warna yang berbeda dengan berbagai alkaloid indol. Warna tergantung pada kromofor ultraungu alkaloid. Campuran feriklorida dan asam perklorat digunakan untuk mendeteksi alkloid Rauvolfia. Alkaloid Cinchona memberikan warna jelas biru fluoresen pada sinar ultra ungu (UV) setelah direaksikan dengan asam format dan fenilalkilamin dapat terlihat dengan ninhidrin. Glikosida steroidal sering dideteksi dengan penyemprotan vanilin-asam fosfat. Pereaksi Oberlin-Zeisel, larutan feri klorida 1-5% dalam asam klorida 0,5 N, sensitif terutama pada inti tripolon alkaloid kolkisin dan sejumlah kecil 1 μg dapat terdeteksi.
SIMPLISIA
1. Alkaloid Piridin-Piperidin
Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen, dengan struktur inti :
Golongan ini dibagi dalam 4 sub golongan : 1. Turunan Piperidin, meliputi piperini yang diperoleh dari Piperis nigri Fructus; yang berasal dari tumbuhan Piperis nigri (fam : Piperaceae) berguna sebagai bumbu dapur. 2. Turunan Propil-Piperidin, meliputi koniin yang diperoleh dari Conii Fructus; yang berasal dari tumbuhan Conium maculatum (Fam: Umbelliferae) berguna sebagai antisasmodik dan sedatif. 3. Turunan Asam Nikotinan, meliputi arekolin yang diperoleh dari Areca Semen; yang berasal dari tumbuhan Areca catechu (fam: Palmae) berguna sebagai anthelmentikum pada hewan. 4. Turunan Pirinin & Pirolidin, meliputi nikotin yang diperoleh dari Nicoteana Folium; yang berasal dari tumbuhan Nicotiana tobaccum (fam: Solanaceae) berguna sebagai antiparasit, insektisida dan antitetanus. Tumbuhan yang juga mengandung alkaloid ini adalah kuli dari Punica granatum (fam: Punicaceae) yang berguna sebagai taenifuga.
2. Alkaloid Tropan
Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sumsum tulang belakang, struktur intinya :
1. Hiosiamin dan Skopolamin
Berasal dari tumbuhan Datura stramonium, D. Metel (fam Solanaceae), tumbuh pada daerah yang memiliki suhu yang panas daun dan bijinya mengandung alkaloid Skopolamin; berfungsi sebagai antispasmodik dan sedative. Pada tumbuhan Hyoscyamus muticus dan H. Niger (fam Solanaceae), tumbuh didaerah Amerika Selatan dan Kanada dikenal dengan nama “Henbane” daun dan bijinya digunakan sebagai relaksan pada otot.
2. Kokain
Senyawa ini berfungi sebagai analgetik narkotik yang menstimulasi pusat syaraf, selain itu juga berfungsi sebagai antiemetik dan midriatik. Zat ini bersal dari daun tumbuhan Erythroxylum coca, E. Rusby dan E. Novogranatense (fam Erythroxylaceae). Kokain lebih banyak disalahgunakan (drug abuse) oleh sebagian orang dengan nama-nama yang lazim dikalangan mereka seperti snow, shabu-shabu, crak dan sebagainya. 3. Atropin, Apotropin dan Belladonina Atropa dari bahasa Yunani yaitu terdiri dari kata “Atropos” yang berarti tidak dapat dibengjokkan atau disalahgunakan, ini disebabkan karena belladona merupakan obat yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kematian. Belladonna barasal dari bahasa Italia “Bella” artinya cantik dan “Donna” artinya wanita. Bila cairan buah diteteskan pada mata akan menyebabkan dilatasi dari pupil mata sehingga menjadi sangat menarik Akar dan daun tumbuhan Atropa belladonna (fam Solanaceae) merupakan sumber dari senyawa ini, digunakan sebagai antispamolitik, antikolinergik, anti asma dan midriatik. Zat ini merupakan hasil dari hiosiamin selama ekstraksi sehingga tak dapat ditemukan dalam tanaman. Atropin yang dihasilkan secara sintetik lebih mahal daripada yang berasal dari ekstraksi dari tanaman dan tidak dapat disaingi harganya.
3. Alkaloid Quinolin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dengan struktur inti seperi di bawah ini:
1. Kinina, Kinidina, Sinkonidin, Sinkonidina
Senyawa ini pada umumnya berguna sebagai anti malaria, alkaloid ini terdapat pada kulit batang (cotex) dari tumbuhan Cinchona succirubra (fam : Rubiaceae). Ada beberapa jenis dari Cinchona diantaranya C. Calisaya yang berwarna kuning berasal dari Peru dan Bolivia, C. Officinalis dan C. Ledgeriana lebih banyak di Indonesia yang ditanam di pulau jawa. Sebelum PD II Indonesia menyuplai 90% kebutuhan kina di dunia, ketika Jepang memutuskan suplai ini maka diusahan beberapa obat antimalaria sintetik (kloroquin, kunaikri dan primakrin) untuk menggantika kina.
2. Akronisina
Berasal dari kulit batang tumbuhan Acronychia bauery (fam : Rutaceae, berfungsi sebagai antineoplastik yang tealah diujikan pada hewan coba dan diharapkan mampu merupakan obat yang efektif untuk kemoterapi neoplasma pada manusia.
3. Camptothecin.
Diperoleh dari buah, sebagian kayu atau kulit dari pohon Camptotheca acuminata (fam : Nyssaceae), suatu pohon yang secara endemik tumbuh di daratan cina. Ekstrak dari tumbuhan ini ternyata mempunyai keaktifan terhadap leukemia limpoid.
4. Viridicatin
Merupakan subtansi antibiotik dari mycelium jamur Penicillium viridicatum (fam : Aspergillaceae), senyawa ini aktif untuk semua jenis Plasmodium (kecuali P. vivax) penyebab malaria. Penggunaan senyawa ini memiliki efek samping berupa Cindronism yaitu pendengaran berkuran.
4. Alkaloid Isoquinolin
Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen dengan struktur inti :
1. Morfin
Penggunaan morfin khusus pada nyeri hebat akut dan kronis , seperti pasca bedah dan setelah infark jantung, juga pada fase terminal dari kanker.Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai : 1). Infark miokard; 2). Mioplasma;3). Kolik renal atau kolik empedu ; 4). Oklusio akut pembuluh darah perifer , pulmonal atau koroner;5) perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan dan 6). Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar , fraktur dan nyeri pasca-bedah. Morfin diperoleh dari biji dan buah tumbuhan Papaver somniferum dan P. Bracheatum (fam : Papaveraceae) salah satu hasil tanaman ini berupa hasil sadapan dari getah buah yang dikenal sebagai “opium” yang berarti candu, Candu merupakan „ibu‟ dari morfin, mulanya dikembangkan sebagai obat penghilang rasa sakit sekitar tahun 1810. Morfin dikategorikan sebagai obat yang ajaib karena mampu mengurangi rasa sakit akibat operasi atau luka parah. Pada saat dikonsumsi, obat ini menyebabkan penggunanya berada dalam kondisi mati rasa sekaligus diliputi perasaan senang/ euforia seperti sedang berada dalam alam mimpi. Oleh karena efek sampingnya yang berupa euforia ini, pada tahun 1811 obat ini diberi nama Morpheus sama seperti nama dewa mimpi Yunani oleh Dr. F.W.A. Serturner, seorang ahli obat dari Jerman. Pertengahan tahun 1850, morfin telah tersedia di seluruh Amerika Serikat dan semakin populer dalam dunia kedokteran. Morfin dimanfaatkan sebagai obat penghilang rasa sakit yang membuat takjub dokter-dokter pada masa itu. Sayangnya, ketergantungan terhadap obat tersebut terlewatkan, tidak terdeteksi sampai masa Perang Saudara berakhir. Dengan adanya penggunaan yang berlebihan yang terus menerus ataupun kadang-kadang dari suatu obat yang secara tidak layak atau menyimpang dari norma pengobatan yang lazim maka hal tersebut dikatakan drug abuse terlebih lagi apabila pada pemakaian morfin sebagai obat keras. Morfin tergolong kedalam hard drugs yakni zat-zat yang pada penggunaan kronis menyebabkan perubahan – perubahan dalam tubuh si pemakai, sehingga penghentiannya menyebabkan gangguan serius bagi fisiologi tubuh, yang disebut gejala penarikan atau gejala abstimensi. Gejala ini mendorong bagi si pecandu untuk terus menerus menggunakan zat – zat ini untuk menghindarkan timbulnya gejala abstimensi.dilain pihak , dosis yang digunakan lambat laun harus ditingkatkan untuk memperoleh efek sama yang dikehendaki (toleransi). Hard drugs menyebabkan ketergantungan fisik (ketagihan ) hebat dan menyebabkan toleransi terhadap dosis yang digunakan.
2. Emetina
Senyawa ini berfunsi sebagai emetik dan ekspektoran, diperoleh dari akar tumbuhan Cephaelis ipecacuanha dan C. Acuminata (fam : Rubiaceae) 3. Hidrastina dan Karadina Senyawa ini berasal dari tumbuhan Hydrastis canadensis (fam : Ranunculaceae) dikenal pula sebagai Yellowroot; bagian yang digunakan berupa umbi akar berkhasiat sebagai adstrigensia pada radang selaput lendir. 4. Beberina Berupa akar dan umbi akar dari tumbuhan Berberis vulgaris (dari Oregon), B. Amition (dari Himalaya), dan B. aristaca (India) dari familia Berberidaceae yang berguna sebagai zat pahit/amara dan antipiretik.
5. Alkaloid Indol
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol dengan inti seperti di bawah ini :
1. Reserpina
Merupakan hasil ekstraksi dari akar tumbuhan Rauwolfia serpentine dari suku Apocynaceae yang terkadang bercampur dengan fragmen rhizima dan bagian batang yang melekat padanya. Senyawa ini berfungsi sebagai antihipertensi. Dalam perdagangan terdapat 5 jenis yaitu R. Serpentine, R. Canescens, R. Micratha, dan R. Tetraphylla. Selain sebagai anti hipertensi juga berfungsi sebagai traqulizer (penenang),
2. Vinblastina, Vinleusina, Vinrosidina, Vinkristina
Diperoleh dari tumbuhan Vinca rosea, Catharanthus roseus (fam : Apocynaceae) berupa herba yang berkhasiat sebagai antitumor.
3. Sriknina & Brusina
Berasal dari tumbuhan Strychnos nux-vomica dan S. ignatii (fam :Loganiaceae) yang terdapat di Filifina, Vietnam dan Kamboja. Bagian tanaman yang diambil berupa ekstrak biji yang telah kering dengan khasiat sebagai tonikum dalam dosis yang kecil sedangkan dalam pertanian digunakan sebagai ratisida (racun tikus).
4. Fisostigmina & Eserina
Simplisianya dikenal dengan nama Calabar bean, ordeal bean, chop nut dan split nut berupa biji dari tumbuhan Physostigma venenosum (fam : Leguminosae) yang berkhasiay sebagai konjungtiva pengobatan glaukoma.
5. Ergotoksina, Ergonovina, & Ergometrina
Alkaloid ini asalnya berbeda dibandingkan dengan yang lain, sebab berasal dari jamur yang menempel pada sejenis tumbuhan gandum yang kemudian dikeringkan. Jamur ini berguna sebagai vasokonstriktor untuk penyakit migrain yang spesifik dan juga sebagai oxytoksik. Diperoleh dari sisik jamur yang menempel pada tumbuhan Claviceps purpurea (fam: Hypocreaceae), jamur ini merupakan parasit pada tumbuhan tersebut, selain itu jamur ini juga terdapat pada tumbuhan Secale cornutum (fam: Graminae). 6. Kurare Diperoleh dari kulit batang Stricnos crevauxii, C. Castelnaci, C. Toxifera (fam:loganiaceae) dan Chondodendron tomentosum (fam: Menispermaceae) yang berguna sebai relaksan pada otot.
6. Alkaloid Imidazol
Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen, dengan inti :
Lingkaran Imidazol merupakan inti dasar dari pilokarpin yang berasal dari daun tumbuhan Pilocarpus jaborandi atau Jaborandi rermambuco, P. Microphylus atau J. marashm, dan P. Pinnatifolius atau J. Paraguay dari familia Rutaceae yang berkhasiat sebagai konjungtiva pada penderita glaukoma.
7. Alkaloid Lupinan
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, intinya adalah :
alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus, Cytisus scopartus (fam : Leguminocaea) dan Anabis aphylla (fam : Chenopodiaceae) berupa daun tumbuhan yang telah dikeringkan berkhasiat sebagai oksitoksik.
8. Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Inti dari steroid adalah :
Alkaloid steroid terbagi atas 3 golongan yaitu :
1. Golongan I : Sevadina, Germidina, Germetrina, Neogermetrina, Gemerina, Neoprotoperabrena, Veletridina
2. Golongan II : Pseudojervina, Veracrosina, Isorobijervosia
3. Golongan III : Germina, Jervina, Rubijervina, Isoveratromina
1. Germidina, Germitrina Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum viride (fam: Liliaceae) yang berguna sebagai antihipertensi.
2. Protoveratrin Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum album (fam : Liliaceae) yang berguna sebagai insektisida & antihioertensi.
3. Sevadina Diperoleh dari biji sebadilla (Sebadilla Semen) dari tumbuhan Schonecaulon officinalis (fam: Liliaceae) berguna sebagai insektisida.
9. Alkaloid Amina
Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin.
1. Efedrina
Berasal dari herba tumbuhan Ephedra distachya, E. Sinica dan E. Equisetina (fam : Gnetaceae) berguna sebagai bronkodilator. Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama “Ma Huang” dalam bahasa Cina “Ma” berarti sepat sedangkan „Huang” berati kuning, hal ini mungkin dihubungkan dengan rasa dan warnan simplisia ini. Selain dari persenyawaan alam, alkaliod ini juga dibuat dalam bentuk sintetis garam seperti Efedrin Sulfat dan Efedrin HCl yang berbetuk kristal, sifatsifat farmakologiknya sama dengan Efedrin dan dipakai sebagai simpatomimetik.
2. Kolkisina
Alkaloid ini berasal dari biji tumbuhan Colchicum autumnalei (fam : Liliaceae) berguna sebagai antineoplasmik dan stimulan SSP, selain pada biji kormus (pangkal batang yang ada di dalam tanah) tumbuhan ini juga mengandung alkaloid yang sama.
3. d- Norpseudo Efedrina
Senyawa di atas diperoleh dari daun-daun segar tumbuhan Catha edulis (fam : Celastraceae) nama lain dari tumbuah ini dalah Khat atau teh Abyssina, tumbuhan ini berupa pohon kecil atau semak-semak yang berasal dari daerah tropik Afrika Timur. Khasiat dari simplisia ini adalah stimulan pada SSP.
4. Meskalina
Diperoleh dari sejenis tumbuhan cactus Lophophora williamsii (fam : Cactaceae) dikenal dengan nama Peyote yang dapat menyebabkan halusinasi dan euphoria
10. Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen; dengan inti :
Susunan inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin yang tergabung dengan Imidazole
1. Kafeina (1,3,7, Trimetil Xanthin)
Alkaliod ini diperoleh dari biji kopi Coffe arabica, C. Liberica (fam: Rubiaceae) mengandung kafein. Aksi dari kopi pada prinsipnya di dasarkan pada daya kerja kafein, yang bekerja pada susunan syaraf pusat, ginjal, otot – otot jantung. tumbuhan lain yang juga mengandung caffein seperti camellia sinensis (fam: Theaceae), cola nitida (fam starculiaceae).
2. Theobromina (3,7 Dimetil Xantin)
Diperoleh dari biji tumbuhan Theobroma cacao (fam: Sterculaceae) yang berguna sebagai diuretik dan stimulan SSP.
3. Theofilina (1,3 Dimetil Xantin)
Merupakan isomerdari 1,3 dimetil xantin (isomer Theobromina) yang berguna sebagai bronkodilator dan diuretik)
1. Deteksi amin 20 dengan
2. Asam amino basa yaitu Lisin, histidin, arginin
3. Alkaloid dalam fungi Trichoderma viridae gliotoksin
4. Alkaloid cair pada suhu kamar nikotin, konini, spartein
5. Alkaloid inti tropan
6. Inti kokain tropan
7. Alkaloid dalam Lophophora williamsi Alkaloid isokinolin sederhana (ancholamin, anhalidin, anhalonidin), meskalin à utama
8. Asam amino yang bukan protein dalam tumbuhan GABA
9. Asama amino 30 banyak dalam tumbuhan tiramin
10. Alkaloid N-alifatik efedrin, muscarin, meskalin
11. Asam amino netral glisin, alanin, valin, leusin isoleusin
12. Pereaksi asam amini ninhidrin
13. Alkaloid inti tropan solanaceae (atropine, datura, hyoscyamus)
14. Alkaloid bukan tumbuhan Batrachotoxin à katak beracun, Phyllobates aurotaenia. Castoamin à Cenadian beaver, muskopiridin à dari sejenis rusa, piosianin à Pseudomonas aeruginosa, gliotoxin à fungi Trichoderma viridae
15. Senyawa N penting sebagai hormone tumbuhan
16. Vasicin (P. harmala), asam amino derivat asam antranilat
17. Biosintesis terpen dimulai dari asetil coA à asam asetat, asam mevalonat
18. KLT minyak atsiri benzene – CHCl3 , benzene-etil asetat
19. Isomer geraniol nerol
20. Inti tropan merupakan kombinasi dari pirolidin-piperidin
21. Alkaloid inti pirolidin higrin, cuscohigrin
22. Alkaloid bukan/tidak memiliki inti aromatis efedrin, muskarin, meskalin
23. Genus yang memiliki alkaloid inti tropan atropa, datura, hyoscyamus, scopelia
24. Deteksi amin alifatik 10 ninhidrin & 2-asetoasetilfenol
25. Senyawa yang merupakan hormone tumbuhan giberelin
26. Pipekolat à analog prolin à 1 gugus CH3 lebih banyak
27. Asam azetidina 2-karbox à analog prolin à 1 gugus CH3 lebih sedikit
28. Alkaloid papaver terikat oleh asam mevalonat
29. Biosintesis alkaloid kinin berasal dari triptofan, tirosin, asam mevalonat
30. Pemecah pelarut dan basa pada analisis kinin di FI3 adalah pemecah asam formiat
31. Alkaloid lain dari kini kupredein, kuprein, sinkonasin
32. Alkaloid kinin termasuk golongan alkaloid kuinolon
33. Vinca alkaloid kebanyakan dengan inti indol dan turunan dihidroindol
34. Alkaloid yang berasal dari fenilalanin efedra
35. Alkaloid hyoscyamin selain fistostigmin oseramin, geneserin
36. Alkaloid strychnine (Strychnos nox vumica) colubrine A,B; vomicin; novacin; spernotrychnin; pseudostrychnin
37. Alkaloid utama strychnos vox vumica strychnine & brucin
38. Yang termasuk terpen alkaloid strychnine dan reserpin
39. Alkaloid yang punya inti fenantren papaverin, narkotin, nasein
40. Biosintesis alkaloid morfin berasal dari sintesis tirosin
41. Alkaloid fistostigmin berasal dari aa triptofan
42. Asam amino bukan protein aspartat, glutamate, A,B,G butirat
43. Poliamin alifatik tersebar luas agmatin, spermidin, spermina, hisperidin
44. Terpen bau khas monoterpen &sekuisterpen
45. Identifikasi terpen KMnO4, SbCl3, H2SO4, uap brom
46. Deteksi triterpen steroid carr-price, Liebermann-bouchard, h2so4/air/alcohol
47. Deteksi senyawa alkaloid dengan dragendorf, iodoplatinat, marquis, formaldehid/h2so4(p)
. Penetapan Kadar Morfin (C17H19NO3) :
a. Penetapan kadar morfin HCl (berdasarkan Farmakope Indonesia IV halaman 568) :
1. Timbang seksama ± 350 mg sampel, larutkan dalam 30 ml asam asetat glasial P (panaskan jika perlu)
2. Dinginkan dan tambahkan 6 ml Raksa (II) Asetat LP dan kristal violet LP sebagai indikator
3. Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV
4. Lakukan penetapan blanko
5. 1 ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 32,18 mg C17H19NO3.HCl
b. Penetapan Kadar Opium (berdasarkan Farmakope Indonesia IV halaman 632) :
1. Timbang seksama ± 8 gr sampel, gerus dalam mortir dengan 10 ml air, ad homogen
2. Tambahkan 20 ml air dan 20 mg Ca(OH)2 P
3. Pindahkan sampel ke labu secara kuantitatif, bilas mortir dengan air hingga bobot 90 gr
4. Tutup labu, diamkan 30 menit dengan sesekali dikocok
5. Saring hingga filtrat dan residu terpisah. 52 ml filtrat ≈ ± 5 gr zat
6. Masukkan filtrat ke dalam erlenmeyer, tambahkan 5 ml etanol P 90% dan 25 ml eter P. Tutup erlenmeyer dan kocok
7. Tambahkan 2,0 gr Ammonium Klorida P, kocok 5 menit,diamkan 30 menit dengan sesekali dikocok (sehingga jumlah waktu pengocokan ± 15 menit)
8. Diamkan semalam hingga lapisan eter terdekantasi sempurna. Melalui corong berisi kapas, bilas labu dan isinya dengan 10 ml eter P, tuang larutan melalui penyaring tanpa menuangkan seluruh hablur
9. Cuci labu penyaring dengan air bermorfin LP hingga filtrat bebas klorida
10. Bilas hablur pada penyaring, kembalikan ke dalam labu dan tambahkan 30 ml asam sulfat 0,1 N LV
11. Didihkan, dinginkan dan filtrasi kelebihan asam dengan Natrium Hidroksida 0,1 N LV
12. Tambahkan indikator metil merah LP
13. 1 ml asam sulfat 0,1 N ≈ 28,53 mg C17H19NO3
Senyawa Nitrogen
asam amino, amina, alkaloid, glikosida sianogenik
Asam Amino
Ada 2 golongan, yi aa protein (as. Glutamate, as. Aspartat, asparagin) dan aa non protein (histidin, triptofan, sistein, metionin).
Sifat: tidak berwarna, ttitik leleh tinggi, larut dalam air, bentuk ester lebih mudah menguap
Penggolongan berdasarkan gugus karboksilat & amida :
1. Aa netral : glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin
2. Aa basa : lisin, histidin, arginin
3. Aa asam : as. Glutamate, as. Aspartat
Penggolongan :
1. Aa heterosiklik : asam asetidin-2-karboksilat, 4-metil-prolin, asam pipekolat
2. Aa dekarboksilat : asam-G-metil glutamate, asam-A-adloat
3. Aa mengandung sulfur : alliin, 5-metil sistein, asam jengkolat
4. Aa hidroksi : homoserin, G-hidroksi valin, asam-G-hidroksi glutamate
Isolasi / pemisahan : biasanya digunakan elektroforesa dan permukaan ion :
1. KKT : 2 arah à butanol:HAc:air=4:1:1 ; fenol:air=3:1
2. KLT : 1-2 arah à selulosa = fase diam ; kloroform:meOH:NH4OH=2:2:1 ; fenol:air=3:1
Deteksi :
1. Larutan 0,1% ninhidrin / BuOH / EtOH (1000C) biru kelabu
2. Elekktroforesa : cepat, baik, akurat
3. HPLC
4. KGC : harus zat mudah menguap
Biosintesis amina à dekarboksilasi asam amino, transaminase senyawa aldehid
Penggolongan berdasarkan jumlah gugus NH2 :
1. Moniamin alifatik
Metilamin, heksilamin (tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi, mudah menguap, konsentrasi >>> à bau tidak enakk)
1. Diamin dan poliamin
Kurang atsiri, bau tdk enak . eg : putresin, agmatin, sperinidin, spermina, kadaverin
1. Amina aromatic
Noradrenalin, histamine, tiramina, holdenina
Analisis amin alifatik :
1. KKt : n-butanol-HAc-H2O=4:1:5
2. 10 : ninhidrin : merah à ungu; 2-asetoasetilfenol 1% / EtOH à fluorosensi kuning (spesifik)
3. 20 : ninhidrin à warna lemah (cenderung biru); na nitroprussid + asetanilid 10% +Na2CO3 20% à biru
4. 30 : dragendorf à jingga
5. KGC : karena mudah menguap
6. KLT : selulosa MN 30, lebih baik gabungan KLT dan elektroforesis
Analisis amin aromatic :
1. KKT : n-BuOH:HAc:H2O=12:3:5 ; Isopropyl-NH4OH-H2O=20:1:2 ; n-BuOH:piridin:H2O=1:1:1 ; n-propanol:NH4OH=5:1
2. KLT : silica gel (petroleum eter:aseton=7:3 ; CHCl3:EtOH:HAc=6:3:1)
Alkaloid
* Senyawa N organic à bersifat basa, cincin heterosiklik
* Berbentuk Kristal tidak berwarna, tidak berbau, rasa pahit,
* Umumnya optic aktif à isomer à perhatikan waktu ekstraksi
* Bentuk garam mudah larut dalam air, bentuk asam sukar larut dalam air
* Banyak yang mempunyai efek gfarkol à bermafaat sebagai obat à sifatnya terhadap system saraf
* Dalam tumbuhan biasanya berbentuk garam
* Asam organic : asam asetat, sitrat, tartrat
* Asam oranik khusus : asam kinat, asam mekonat
* Perkecualian :
o Tidak bersifat basa : kafein, koklisin, nisin
o Berbentuk cair : nikotin, zeomiin, spartein
o Kerja tidak terhadar system saraf : kinin
Reaksi warna :
1. Coffein : – semua
2. Hyoscyamin (atropine) : wasicky à merah – violet (pemanasan)
3. Kodein : HNO3(p) à kuning-coklat pucat ; Erdmann à hijau-coklat; frohde à hijau-biru; mandolin à biru-violet; wasicky à merah terang (pemanasan); mecke à biru jadi ijo
4. Papaverin : hno3(p)à kuning pucat; Erdmann à kuning pucat; frohde à violet biru jadi kuning; mandolin –? Biru hijau jadi biru; wasicky à jingga (pemanasan); marquis à merah anggur jadi kuning jingga; mecke à hijau buri jadi merah jadi violet tua (pemanasan)
5. Morphin : HNO3(p) à jingga jadi kuning; Erdmann à kecoklatan; frohde à merah violet jadi hijau; mandolin à violet; wasicky à merah terang (pemanasan); marquis à merah violet; mecke à biru, biru hijau
6. Emetin : HNO3(p) à kuning jadi orange; Erdmann à hijau kuning; frohde à hijau
7. Strychnine : HNO3(p) à kuning; mandolin à biru violet jadi merah
Sintesis hyoscyamin :
Ornitin à n-metilpirollinium ion à tropin
Fenilalanin à asam tropic/ asam aropat
Tropin +asam aropat à hyoscyamin
Pembentukan inti tropan :
Ornitin à n-metil-putrosin à n-metil… à higrin à tropin
Contoh alkaloid tropan : hyoscyamin, skopolamin, meteloidin
Alkaloid tropan : solanaceae, concolculaceae, dioscoreaceae, erythroxylaceae
Biosintesis fenilalanin, tirosin, triptofan :
Asam sikimat à 3-cnoylpiruvyls à asam khorismat à triptofan
Asam khorismat à asam prephenat à pretirosin, p-hidroksifenil piruvic acid, asam fenil piruvat à fenilalanin
Pretirosin & p-hidroksifenl piruvic acid à tirosin
fenomena antarrmuka
Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu. Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), maka tegangan-permukaan, S dapat ditulis sebagai S = F/L.
basa purine
basa purin
purin adalah turunan dari inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin 6-beranggota fusi 5-beranggota imidazolering. Purin itu sendiri tidak terjadi di alam, tetapi banyak turunan secara biologis signifikan. farmasi dasar penting dari kelompok ini adalah semua derivitives alkohol dari 2,6-dioxypurin (xanthine). kafein adalah 1,3,7-trimethylxanthine, theocphylline adalah 1,3-dimethylxanthine dan theobromine adalah 3,7-dimethylxanthine.
yang methylxanthines competitivary menghambat phosphodiesterase, yang menghasilkan peningkatan monofosfat adenosin siklik dengan rilis berikutnya epinefrin endogen. ini menghasilkan relaksasi langsung dari otot polos dari saluran pernapasan dan pembuluh darah paru, suatu stimulasi sistem saraf pusat, merupakan induksi dari diuresis, peningkatan sekresi asam lambung, sebuah penghambatan conctrctions rahim, dan chronotropic positif lemah dan inotropic efek pada jantung.
kafein disintesis dari prekursor yang sama di kopi arabika sebagai basesin purin semua sistem biologis lainnya yang telah diselidiki. atom Carbon 2 dan 8 berasal baik dari formate atau dari senyawa, serta metionin, merupakan prekursor aktif dari kelompok B-metil dari molekul: Karbon atom 6 berasal dari karbon dioksida, dan karbon 4 dan 5, bersama dengan nitrogen atom pada posisi 1 berasal dari asam aspartat, tetapi mereka dalam posisi 3 dan 9 berasal dari nitrogen amida glutamin.
obat dari kelompok kopi, kafein, guarana, kola, mate, teh, teofilin, kakao, dan theobromine
purin adalah turunan dari inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin 6-beranggota fusi 5-beranggota imidazolering. Purin itu sendiri tidak terjadi di alam, tetapi banyak turunan secara biologis signifikan. farmasi dasar penting dari kelompok ini adalah semua derivitives alkohol dari 2,6-dioxypurin (xanthine). kafein adalah 1,3,7-trimethylxanthine, theocphylline adalah 1,3-dimethylxanthine dan theobromine adalah 3,7-dimethylxanthine.
yang methylxanthines competitivary menghambat phosphodiesterase, yang menghasilkan peningkatan monofosfat adenosin siklik dengan rilis berikutnya epinefrin endogen. ini menghasilkan relaksasi langsung dari otot polos dari saluran pernapasan dan pembuluh darah paru, suatu stimulasi sistem saraf pusat, merupakan induksi dari diuresis, peningkatan sekresi asam lambung, sebuah penghambatan conctrctions rahim, dan chronotropic positif lemah dan inotropic efek pada jantung.
kafein disintesis dari prekursor yang sama di kopi arabika sebagai basesin purin semua sistem biologis lainnya yang telah diselidiki. atom Carbon 2 dan 8 berasal baik dari formate atau dari senyawa, serta metionin, merupakan prekursor aktif dari kelompok B-metil dari molekul: Karbon atom 6 berasal dari karbon dioksida, dan karbon 4 dan 5, bersama dengan nitrogen atom pada posisi 1 berasal dari asam aspartat, tetapi mereka dalam posisi 3 dan 9 berasal dari nitrogen amida glutamin.
obat dari kelompok kopi, kafein, guarana, kola, mate, teh, teofilin, kakao, dan theobromine
Langganan:
Postingan (Atom)
