Jumat, 29 April 2011

tubuh sebagai satu kesatuan ( anfisman )

TUBUH SEBAGAI SATU KESATUAN

I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat menunjukkan letak organ-organ tubuh, serta dapat menjelaskan sistem transpor dalam tubuh.

II. Teori Dasar
Organ merupakan bagian tubuh yang memiliki satu atau lebih fungsi tertentu. Penyusun organ adalah beberapa jenis jaringan yang terorganisir dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Contoh: usus halus, berfungsi mencerna dan menyerap sari-sari makanan. Struktur usus halus terdiri dari jaringan otot, jaringan epitel, jaringan ikat, dan jaringan saraf. Sistem organ merupakan gabungan dari berbagai organ yang melaksanakan satu fungsi dalam koordinasi tertentu.
Macam-Macam Sistem Organ Pada Manusia :
 Sistem Ekskresi berfungsi untuk memindahkan hasil metabolisme yang sudah tidak diperlukan ke luar tubuh sehingga sel-sel tubuh dapat menjaga keseimbangannya terhadap lingkungan. Terdiri atas ginjal, paru-paru (karbon dioksida), hati (racun) dan kulit (keringat).
 Sistem Pernapasan adalah sistem yang memiliki fungsi untuk mengambil oksigen, menyediakan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke luar tubuh. Terdiri dari hidung, faring, laring, trakea / trakhea, bronki dan paru-paru.
 Sistem Pencernaan adalah sistem yang berfungsi untuk melakukan proses makanan sehingga dapat diserap dan digunakan oleh sel-sel tubuh secara fisika maupun secara kimia. Terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, rektum, hati dan pankreas.
 Sistem Peredaran / kardiovaskular adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menjaga tubuh dari penyakit, menyebar sari makanan dan oksigen ke seluruh tubuh serta mengangkut zat-zat sisa ke luar tubuh. Terdiri atas jantung, pembuluh arteri, pembuluh vena, pembuluh kapiler, pembulu getah bening (limfatik) dan kelenjar limfe.
 Sistem Reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya.
 Sistem Otot adalah sistem tubuh yang memiliki fugnsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka.
 Sistem Saraf adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menerima dan merespon rangsangan. Terdiri dari otak, saraf tulang belakang, simpul-simpul syaraf dan serabut syaraf.
 Sistem Endokrin adalah sistem yang berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur aktivitas tubuh. Terdiri atas kelenjar tiroid, kelenjar hipofisa/putuitari, kelenjar pankreas, kelenjar kelamin, kelenjar suprarenal, kelenjar paratiroid dan kelenjar buntu.
 Sistem Rangka adalah sistem yang memiliki fungsi untuk menyimpan bahan mineral, tempat pembentukan sel darah, tempat melekatnya otot rangka, melindungi tubuh yang lunak dan menunjang tubuh. Terdiri dari tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang, rangka penopang tulang bahu, rangka penopang tulang pinggul, tulang angota badan atas dan bawah.
 Sistem peliput adalah sistem yang terletak di permukaan luar tubuh dan melindungi organ dalam tubuh yang terdiri dari kulit, kuku, dan rambut.

Proses transport materi merupakan salah satu aktivitas yang berlangsung yang berlangsung dalam tubuh kita. Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis. Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi sederhana melalui membran berlangsung karena molekul -molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak. Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral, tidak dapat menembus membran secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
• Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
• Ketebalan membran
Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
• Luas suatu area
Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
• Jarak
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
• Suhu
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.

Sedangkan osmosis adalah perpindahan zat pelarut dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama, jadi apabila kita mempunyai larutan A dan B dimana kedua larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama, maka dikatakan larutan A isotonik dengan larutan B. Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi, sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran.



III. Alat dan Bahan

No. Alat Bahan
1 Gelas piala 50 ml dan 100 ml NaCl 0,9 %
2 Kantong selofan Larutan glukosa 5%
3 Tali, Putih telur
4 Penangas air, Agar
5 Lampu spirtus, AgNO3 1%
6 Cawan petri, Kristal KmnO4
7 Tabung reaksi dan raknya Kristal Metil jingga
8 Pipet tetes Larutan Benedict
9 Batang pengaduk Larutan sukrosa 20%
10 Alat pelubang Larutan sukrosa 40%
11 Penjepit tabung Larutan sukrosa 60%
12 Stopwatch Air suling hangat
13 Gelas ukur 10 ml Larutan agar
14 Neraca analitik HNO3


IV. Prosedur Percobaan
IV.1. Fisiologi
a. Percobaan difusi
i. Difusi sederhana
• Dimasukkan beberapa butir kristal KMnO4 ke dalam gelas kimia
• Diisi setengahnya dengan air
• Dilakukan pengamatan selama 1jam
• Diulangi percobaan menggunakan air hangat
• Diamati perbedaannya (kecepatan difusi pada suhu yang berbeda)



ii. Difusi agar
• Dibuat larutan agar 2% dalam air suling pada gelas piala
• Dididihkan agar tersebut sampai diperoleh larutan bening
• Larutan agar 5ml dituangkan ke cawan Petri da n dibiarkan memadat
• 2 buah lubang dibuat dengan jarak 3 cm, pada agar yang telah memadat
• Diletakkan kristal KMnO4 pada salah satu lubang dan kristal metal jingga pada lubang yang lain
• Dicatat jarak difusi KMnO4 dan metal jingga sebagai fungsi waktu
• Mana yang berdifusi lebih cepat? Mengapa?
iii. Difusi melalui membran
• Dibuat larutan koloidal yang terdiri dari putih telur, natrium klorida 0,9% dan glukosa 5%
• Dimasukkan larutan koloidal ke dalam kantong selofan ¾ penuh
• Diikat kantong selofan dengan rapat
• Digantungkan kantong selofan pada batang pengaduk dengan tali
• Kemudian dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air suling dalam posisi melayang
• Didiamkan selama 1 jam
• Diuji air suling dengan gelas piala terhadap adanya NaCl, albumin dan glukosa setelah 1 jam
Untuk uji difusi melalui membran ini, siapkan 9 buah tabung reaksi, beri nomor 1 sampai 9
Uji terhadap NaCl
• Tabung reaksi 1 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 2 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 3 dimasukkan 3 ml larutan NaCl 0,9 %
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat endapan putih?)
Uji terhadap glukosa
• Tabung reaksi 4 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• Tabung reaksi 5 dimasukkan 3 ml air suling
• Tabung reaksi 6 dimasukkan 3 ml larutan glukosa
• Tabung reaksi 4, 5, dan 6 ditambahkan 3 ml larutan Benedict
• Dididihkan tabung 4, 5, dan 6 selama beberapa menit, kemudian didinginkan
• Diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terbentuk endapan hijau, kuning atau merah?)
Uji terhadap albumin
• tabung reaksi 7 dimasukkan 3 ml cairan yang berasal dari gelas piala di atas
• tabung reaksi 8 dimasukkan 3 ml air suling
• tabung reaksi 9 dimasukkan 3 ml putih telur
• tabung 7, 8, dan 9 ditambahkan beberapa tetes HNO3
• diamati perbedaan yang terjadi pada ketiga tabung (pada tabung yang mana terdapat kekeruhan?)
b. Percobaan Osmosis
• Disiapkan 5 kantung selofan berukuran sama
• Diisikan masing-msing :
 kantong 1 : air hangat 10 ml
 kantong 2 : larutan sukrosa 20% 10 ml
 kantong 3 : larutan sukrosa 40% 10 ml
 kantong 4 : larutan sukrosa 60% 10 ml
 kantong 5 : air suling hangat 10 ml
• Ditutup dan diikat dengan tali sehingga tidak terdapat udara dalam kantong
• Ditimbang bobot tiap kantung
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi air hangat pada kantong 1 sampai 4
• Dicelupkan ke dalam gelas piala berisi larutan sukrosa 60% pada kantong 5
• Setelah 15 menit, diangkat kantong-kantong dan dikeringkan bagian luarnya
• Ditimbang bobot tiap kantong
• Dicelupkan kembali kantong-kantong ke dalam gelas piala masing-masing
• Diulangi pada menit ke-30, 45,60 dan 75

V. Data Pengamatan
i. Difusi Sederhana
tmenit KMnO4
Air hangat Air dingin
t0 ++ +
t10 +++ ++
t20 ++++ +++
t30 +++++ ++++
t40 ++++++ +++++
t50 +++++++ ++++++
t60 ++++++++ +++++++

ii. Difusi Agar
tmenit Diameter
KMnO4 Metil Jingga
t1 0,92 0,72
t2 1,13 0,92
t3 1,41 1,11
t4 1,43 1,1
t5 1,47 1,1










Grafik Perbandingan Kecepatan Difusi Agar
iii. Difusi Membran
 Tabung 1 : air panas + AgNO3 ada endapan putih
 Tabung 2 : bening
 Tabung 3 : endapan putih
 Tabung 4 : hijau
 Tabung 5 : biru ( setelah dipanaskan 10 menit)
 Tabung 6 : merah bata (setelah dipanaskan 10 menit)
 Tabung 7 : bening
 Tabung 8 : bening
 Tabung 9 : keruh

iv. Percobaan Osmosis

Kantong t = 0 menit t = 15 menit t = 30 menit t = 45 menit t = 60 menit t = 75 menit
1 9,33 gram 7,85 gram 6,09 gram 4,56 gram 4,03 gram 3,93 gram
2 10,78 gram 11, 87 gram 12,32 gram 12,76 gram 13,04 gram 13,09 gram
3 11,20 gram 13,04 gram 13,74 gram 14,64 gram 14,79 gram 16,04 gram
4 11,77 gram 15,64 gram 16,97 gram 17,68 gram 18,43 gram 18,85 gram
5 9,67 gram 7,07gram 5,35gram 4,18 gram 3,67 gram 3,44 gram












VI. Gambar Anatomi Tubuh Manusia






























VII. Pembahasan
Pada percobaan difusi sederhana, setelah kristal KMnO4 dimasukkan dalam 2 gelas kimia yang berisi air dingin dan hangat, maka kristal KMnO4 mulai berdifusi. Pengamatan dilakukan selama 1 jam dan diamati setiap 10 menit dan hasilnya kristal KMnO4 dalam air hangat berdifusi lebih cepat yang ditandai dengan perubahan warna air yang lebih pekat (ungu pekat) dibandingkan perubahan warna pada air dingin (ungu). Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
Pada difusi agar, setelah larutan agar memadat dan dibuat dua lubang yang berjarak 3 cm, lubang satu dimasukkan kristal KmnO4 dan lubang lainnya dimasukkan metil jingga. Setelah pengamatan dilakukan selama 5 menit dan diamati setiap 1 menit, hasilnya adalah diameter yang dibentuk oleh kristal KMnO4 selalu lebih luas dibandingkan dengan diameter yang dibentuk oleh metil jingga. Hal tersebut menunjukkan bahwa kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Kecepatan difusi ini dipengaruhi oleh perbedaan berat molekul antara kristal KMnO4 dan metil jingga. Berat molekul kristal KMnO4 lebih kecil yaitu 158,03 g/mol dibandingkan dengan berat molekul metil jingga yaitu 327,33 g/mol, sehingga semakin kecil berat molekul maka kecepatan difusi akan semakin cepat. Jadi berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
Pada difusi membran, setelah membuat larutan koloidal (putih telur + NaCl 0,9% + glukosa 5%) yang dibungkus dalam kantong selofan dan direndam dalam gelas piala yang berisi air suling dan kemudian dilakukan uji NaCl, glukosa dan albumin. Pada uji terhadap NaCl, tabung 1 diisi cairan dari gelas piala, tabung 2 diisi dengan air suling dan tabung 3 diisi dengan NaCl. Semua tabung (1,2,3) ditambahkan beberapa tetes AgNO3 dan hasilnya tabung 1 terdapat sedikit endapan putih, tabung 2 larutan bening dan tabung 3 terbentuk endapan putih. Endapan putih yang terbentuk adalah hasil dari reaksi antara NaCl dan AgNO3. Jadi cairan dari gelas piala yang dimasukkan pada tabung 1 mengandung NaCl. Hal ini menunjukka bahwa larutan NaCl dapat menembus kantong selofan yang bersifat seperti membran semipermeabel. Pada uji terhadap glukosa yang ditambahkan dengan larutan Benedict, pada tabung 1 terjadi perubahan warna menjadi hijau, hal ini menunjukkan bahwa cairan dari gelas piala mengandung glukosa dalam jumlah sedikit. Tubung 5 tidak mengalami perubahan warna, sedangkan tabung 6 yang berisi glukosa terjadi endapan merah bata. Struktur glukosa tidak kompleks tetapi berat molekul lebih besar dari NaCl sehingga glukosa dapat berdifusi. Apabila pada glukosa warna yang terjadi sama dengan kontrol maka glukosa tidak dapat berdifusi. Pada uji terhadap albumin yang ditambahkan dengan HNO3, pada tabung 7 dan 8 tidak terjadi reaksi apapun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak larutan albumin pada tabung tersebut dan albumin tidak berdifusi. Pada tabung 9 terdapat endapan putih. Endapan putih tersebut berasal dari reaksi antara albumin dan HNO3. Albumin merupakan protein yang tidak tahan terhadap perubahan pH yang ekstrim. Oleh sebab itu strukturnya akan rusak dan rusaknya struktur tersebut ditandai dengan adanya endapan putih. Jadi dari percobaan difusi membran membuktikan bahwa larutan yang dapat menembus kertas selofan adalah larutan yang memiliki ukuran molekul yang kecil seperti NaCl dan glukosa.
Pada uji osmosis, pencelupan kantong-kantong selofan ( kantong selofan 1-4 dicelupkan ke gelas piala berisi air hangat, dan kantong selofan 5 dicelupkan ke gelas piala berisi larutan sukrosa 60 %) yang menghasilkan bobot ( w ) pada t0, t15, t30,t45,t60 dan t75.
Pada kantong 1 bobot kantong terus berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Seharusnya pada kantong 1 bobot relatif stabil, mungkin terdapat kesalahan dalam penimbangan.pada tabung 1 ini terjadi isotonik yaitu memiliki tekanan isotonik yang sama sehingga tidak mempengaruhi bobot kantong. Pada kantong 2 , 3, 4, bobot kantong meningkat. Pada kantong ini terjadi Larutan hipertonik, yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi dan sebagian besar molekul air terikat atau tertarik ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sehingga air akan masuk ke kantong selofan dan membuat bobot kantongbertambah. Sedangkan pada kantong 5 bobot kantong terus berkurang. Hal ini terjadi karena air keluar dari kantong, akibatnya kantong menciut. Pada tabung 5 ini terjadi proses hipotonik yaitu larutan dengan konsentrasi terlarut rendah, memiliki lebih benyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran.



VIII. Kesimpulan

 Ada 2 transport dalam tubuh, yaitu transport aktif dan transport pasif. Transport pasif ada 2 yaitu difusi dan osmosis.
 Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion).
 Dari percobaan difusi sederhana menunjukkan bahwa suhu sangat berpengaruh pada kecepatan difusi, sehingga semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat. Jadi suhu berbanding lurus dengan kecepatan difusi.
 Pada difusi agar, kristal KMnO4 lebih cepat berdifusi dibandingkan dengan metil jingga. Berat molekul berbanding terbalik dengan kecepatan difusi.
 Pada difusi membran, larutan NaCl dan glukosa dapat berdifusi karena memiliki ukuran molekul kecil, sedangkan albumin tidak dapat berdifusi karena memiliki ukuran partikel yang besar.
 Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel.
 Pada uji osmosis kantong 1 stabil karena terjadi proses isotonik, kantong 2,3,4 meningkat karena terjadi proses hipertonik dan kantong 5 terjadi proses hipotonik yang menyebabkan bobot kantong berkurang.
 Larutan isotonik adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama.
 Larutan hipotonik adalah larutan dengan konsentrasi terlarut rendah.
 Larutan hipertonik adalah larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi.
 Beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :

 Ukuran partikel
 Ketebalan membrane
 Luas suatu area
 Jarak
 Suhu


IX. Daftar Pustaka
Kurnadi, Kemal Adyana. 2001. Anatomi Fisiologi Manusia. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia Edisi Pertama. Penerbit : Graha ilmu. Yogyakarta
Organisasi.org/definisi-pengertian-organ-sistem-organ-fungsi-serta-macam-jenis-sistem-tubuh-manusia – diakses pada tanggal 6 maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar